Beranda Hukum & Kriminal Wakil Bupati TTS : Jika Masyarakat Bonle’u Ditahan, Saya dan Jabatan...

Wakil Bupati TTS : Jika Masyarakat Bonle’u Ditahan, Saya dan Jabatan Saya Sebagai Jaminan

777
0

SOE, Flobamora-news.com – Wakil Bupati Jhony Army Konay dan Ketua Komisi II DPRD Imanuel Olin bersama rombongan mendatangi dan berdialog langsung dengan masyarakat guna membahas penutupan mata air Bonle’u. Pasalnya masalah tersebut menuai banyak protes dan berujung pada laporan polisi. Pertemuan tersebut berlansung di Desa Bonle’u Kamis (3/5/2021).

Hadir dalam rombongan, wakil bupati TTS, Jhony Army Konay, ketua komisi II DPRD TTS, Imenuel Ollin, wakil ketua komisi II, Melianus Bana, anggota komisi II, Lorens Jehau, godentius Ninu, Antoneta Nenabu, dan selain komisi II, hadir juga anggota DPRD dari dapil II, Lusianus Tusalak, dan Robinson Faot, serta sejumlah awak media dari media cetak, dan media online. Sedangkan masyarakat yang hadir pada pertemuan, tersebut adalah masyarakat bonleu, diantaranya Amaf yaitu, Liem, Baun, Olla, Anone, dan meo, Ollin, Fobia.

Anggota Komisi II DPRD TTS dari Fraksi Golkar, Laurens Jehau mengatakan bahwa, masalah penutupan sumber mata air Bonle’u oleh warga masyarakat adat Desa Bonle’u itu bukan sebuah kejahatan pengrusakan, tetapi itu adalah bentuk eksepsi masyarakat terhadap pemerintah yang selalu ingkar janji, dan tidak pernah perhatikan masyarakat desa Bonle’u.

”Selah kami datangi masyarakat baru kami tahu isi hati masyarakat, ternyata itu bukan pengrusakan tetapi membuka pikiran pemerintah dan kami DPRD”, tegas Laurens.

“Karena terbawa emosi, masyarakat terhadap janji pemerintah maka dilakukan aksi protes dengan cara membuka air melalui pembuangan sehingga tidak termasuk pengrusakan”, jelas Laurens.

Oleh karena itu, Laurens meminta kepada masyarakat agar tidak tanggapi laporan Poisi sebab bukan pengrusakan.

Menjawab informasi yang disampaikan, Joni Babu bahwa pipa air bersih milik PDAM Soe yang putus beberapa waktu lalu akibat bencana alam. n
Namun oleh PDAM hanya perhatikan pipa menuju Soe dan mengabaikan pipa yang disalurkan oleh PDAM kepada masyarakat yang juga putus tetapi dikerjakan masyarakat secara swadaya dengan mengumpulkan uang bervariasi mulai dari Rp 20.000 hingga Rp 50.000 itu sebagai bentuk emosional masyarakat.

“Kami baru tahu kalau masyarakat marah karena salah satu faktor PDAM hanya perbaiki pipa PDAM dan mengabaikan kepentingan masyarakat, sehingga kecewa dan alihkan air bukan merusak”, katanya.

Roby Faot dengan tegas meminta kepada Pemda TTS untuk segera cabut laporan polisi. Masyarakat sudah memberikan sumber air untuk dikonsumsi bukan menjawab tuntutan masyarakat tetapi malah dipolisikan.

“Tindakan Pemda ini sangat lucu. Masa masyarakat minta pembangunan jalan dengan aksi protes, malah di laporkan. Dan saya minta Pemda melalui PDAM Soe agar segera cabut laporan terhadap masyarakat bonle’u”, tegas Robi.

Sementara itu Wakil Bupati, Jhony Army Konay, mengatakan bahwa ” saat rapat bersama antara Komisi II DPRD bersama PDAM, sudah saya perintahkan PDAM Soe agar segera mencabut laporan polisinya. yang di laporkan adalah masyarakat saya yang mana merekalah yang memilih kami sebagai Bupati dan Wakil Bupati. Dan seharusnya jika masyarakat menuntut haknya, melalui sebuah aksi protes maka sebagai bapak buat mereka, ya semua turun dan temui mereka lalu jelaskan apa yang menjadi tuntutan mereka.

Lanjut Army, karena saya sudah perintahkan untuk cabut laporan polisinya namun sampai sekarang laporannya belum dicabut, maka saya minta kepada semua masyarakat Desa Binle’u yang dipanggil oleh polisi harus menghadap dan semuanya nanti nginap di rumah jabatan Wakil Bupati. Lalu ke esokan harinya kita sama-sama menghadap.

“Jika masyarakat ingin ditahan, maka saya sebagai jaminan, dan saya siap pertaruhkan jabatan saya demi masyarakat TTS”, pungkas Konay.


Reporter: YOR T


Komentar