Beranda Kesehatan & Pola Hidup Walhi Gelar Unjuk Rasa Terkait Kasus DBD

Walhi Gelar Unjuk Rasa Terkait Kasus DBD

241
0

FLOBAMORA-NEWS.COM, Kupang – Sejumlah mahasiswa dan Wahana lingkungan hidup (Walhi) Nusa Tenggara Timur (NTT) menggelar aksi unjuk rasa terkait endemik kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Sumba Timur yang telah merengut nyawa 18 orang.

“Dari Catatan Walhi sudah 18 orang meninggal, akibat DBd, dan 800 lebih yang terserang DBD,” kata Ketua Walhi NTT, Umbu Wulang Tanamaahu Paranggi saat aksi unjuk raaa di DPRD NTT, Rabu, 13 Maret 2019.

Sumba Timur merupakan salah satu kabupaten di NTT yang mengalami tingkat keparahan wabah Demam Berdarah Dengue (DBD) paling tinggi.

Berdasarkan hasil riset di tiga Rumah sakit di Kota Waingapu, ibu kota Sumba Timur menyebutkan sejak 1 Januari 2019 sampai  23  Februari 2019 sudah mencapai 460 pasien diserang DBD yang ditangani oleh ketiga RS tersebut.

Pada Maret 2019 penderita DBD di Sumba Timur mencapai 585 kasus. Hingga kini penularan virus dengue di Sumba Timur  semakin hari kian bertambah parah dan belum diselesaikan dengan baik oleh pemerintah daerah.

“DBD sudah menjadi kejadian luar biasa (KLB), namun masih ditangani secara biasa-biasa saja oleh pihak pemerintah daerah,” tegasnya.

Karena itu, mereka menuntut meminta Gubernur NTT untuk segera turun ke Sumba Timur melihat dan mengambil sikap tegas terkait persoalan DBD yang hingga saat ini belum selesai.

Walhi berharap adanya perbaikan sistem sanitasi dan tata kelola lingkungan hidup yang baik di Sumba Timur, sehingga di tahun mendatang virus dengue secara pelahan-lahan bisa diatasi dengan perilaku masyarakat dan kebijakan daerah yang ramah terhadap lingkungan dan kesehatan.

“Kami minta DPRD Sumba Timur untuk serius mengawasi tindakan pencegahan DBD baik dari sisi anggaran dan regulasi,” katanya.

Mereka juga menuntut pemerintah segera  memperbaiki dan membenahi tata kelola lingkungan hidup yang baik dan sehat sesuai Undang-Undang 32 Tahun 2009.

Menyediakan posko-posko dan obat di setiap kecamatan yang bertujuan untuk meminalisir jarak dan keterlambatan akses kesehatan warga yang terkena wabah DBD.

“Kami minta pemerintah membentuk tim khusus dan relawan untuk mencegah penularan DBD,” harapnya.

Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan dokter Chrisnawan Tri Haryantana melalui Whatsapp menjelaskan, Laporan kasus baru DBD sumba timur berdasarkan data yang direkap dari rumah sakit yang ada di Sumba Timur
per tgl 13 maret 2019 sbb:

  1. Kasus DBD : 12
  2. Suspek : 3
  3. Meninggal : 0

Total 1 jan s.d 13 maret 2019

  1. Kasus : 670
  2. Suspek : 80
  3. Meninggal : 16

Berdasarkan data ini Sumba Timur merupakan daerah yang paling tinggi penderita DBD di NTT.

“Ini data yang benar sesuai dengan data yang dipeoleh dari puskesmas dan rumah sakit yang ada di Sumba Timur’. Ujar kadis Kesehatan

“Saat ini upaya sudah kami lakukan dengan meningkatkan sistem kewaspadaan dini dan respon (SKDR) terhadap Rumah Sakit dan Puskesmas, penyidikian Epidemiogi, melakukan foging, melakukan koordinasi dengan Puskesmas dan Kecamatan, Abatesasi, Calling keliling dan sosialisasi DBD di tempat ibadah. Kata Crhisnawan

“Kami terus melakukan pemberantasan sarang nyamuk yang masif, melibatkan seluruh elemen masyarakat berkelanjutan. Masalah ini bukan masalah dinas kesehatan saja..tapi bagaimana masyarakat menjaga kebersihan lingkungannya, sehingga tdk ada kesempatan nyamuk utk berkembang biak’. Ujar Chrisnawan (Robert)

Komentar