Mari bicara jujur: dalam setiap kenaikan spektakuler Bitcoin, siapa yang benar-benar untung? Mereka yang masuk lebih awal dan memiliki modal besar. Mereka yang bisa membeli saat pasar diam, bukan saat pasar ribut. Sementara kebanyakan ritel masuk setelah narasi meledak di media sosial dan YouTube. Mereka masuk ketika influencer mulai memamerkan portofolio, ketika berita mulai memuat kata-kata “Bitcoin mencetak rekor baru.” Pada titik itu, distribusi sudah berjalan. Ritel tidak membeli peluang. Ritel membeli euforia.
Di era digital, pasar tidak hanya bergerak berdasarkan analisis teknikal dan fundamental. Ia bergerak mengikuti algoritma atensi. Konten yang viral lebih berpengaruh terhadap keputusan finansial ritel dibanding laporan riset ekonomi. Influencer dengan jutaan pengikut bisa menggerakkan pasar lebih cepat daripada publikasi analisis pasar modal. Dan di sinilah permainan menjadi semakin menarik sekaligus berbahaya: likuiditas kini berpindah mengikuti narasi, bukan data.
Maka untuk memahami Bitcoin, kita tidak cukup menggunakan kacamata teknologi atau ekonomi saja. Kita harus menggunakan kacamata perilaku massa. Pasar Bitcoin lebih mirip panggung psikologi sosial ketimbang bursa saham. Di sana, rasa takut, harapan, dan kebutuhan untuk diakui bercampur menjadi satu dan memicu perilaku finansial yang sering kali irasional. Market cap terdengar seperti logika kapitalisasi, padahal yang bergerak adalah logika gengsi digital: siapa yang lebih cepat memposting portofolio hijau, dialah yang lebih dianggap berhasil.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
