MI Al-Hidayah merupakan satu-satunya lembaga pendidikan di Pulau Kukusan yang berdiri sejak tahun 2001. Selama bertahun-tahun, sekolah ini berjuang dengan keterbatasan fasilitas yang memprihatinkan. Kepala MI Al-Hidayah, Husen, menceritakan bahwa sebelum revitalisasi dilakukan oleh Direktorat Polairud Polda NTT pada Juni 2026, hanya dua ruangan yang dapat digunakan untuk kegiatan belajar mengajar. Sebagian siswa terpaksa belajar di ruang terbuka, di bawah pohon, dan sering terganggu oleh ternak warga.
“Dulu sebelum direnovasi pada Juni 2026 oleh Direktorat Polairud Polda NTT, hanya dua ruangan yang difungsikan untuk belajar. Lainnya belajar di bawah pohon dan selalu terganggu oleh kambing,” ungkap Husen.
Kendala tidak hanya soal bangunan. Dengan 46 siswa dan empat orang tenaga guru, keterbatasan kualifikasi akademik pendidik juga menjadi tantangan. Namun semangat tidak pernah luntur. “Kualifikasi pendidik di sini masih di bawah standar semua. Di mana saya sebagai kepala madrasah pun sampai hari ini masih kualifikasi non S-1, namun itu tidak membuat saya merasa bahwa saya tidak bisa, karena memang kalau tidak kami yang berjuang sebagai pendidik di sini, siapa lagi?” tegas Husen.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
