Indonesia, seperti yang digambarkan oleh mereka hari ini, adalah negeri yang mewarisi suara dari gua-gua purba, yang pernah menjadi pusat dunia, namun kini nyaris kehilangan panggung untuk berdialektika.
Kita butuh kebudayaan yang hidup, bukan yang dibekukan dalam museum atau dijadikan sekadar dekorasi festival. Butuh pemimpin yang mengerti kultur, bukan hanya struktur. Butuh ruang bagi keragaman suara, bukan hanya pengeras narasi tunggal.
“Kebenaran tidak pernah dimonopoli oleh satu suara,” ujar Okky. Dan dalam riuh zaman ini, suara itu terdengar seperti doa yang disampaikan lewat mikrofon.
Dalam kebisingan dunia baru yang seringkali menelan jejak sejarah dan mengabaikan nilai-nilai lama, diskusi semacam ini adalah oase intelektual yang langka. Jika kebudayaan adalah cermin bangsa, maka sudah saatnya kita membersihkan kaca itu dari kabut kekuasaan dan prasangka.
Seperti kata Imam Ali bin Abi Thalib, “Seseorang yang tidak mengetahui sejarahnya, maka ia akan tersesat dalam perjalanan hidupnya.” Dan hari ini, dalam ruangan itu, secercah cahaya telah menuntun kita kembali melihat peta jalan lama—menuju jati diri yang (masih) mungkin diselamatkan.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
