Puncak acara berlangsung pada hari ketiga melalui ritual syukuran pascapanen di Bukit Tubu Bubneo yang dilanjutkan dengan tradisi Tabenat Ta’uf, yakni makan bersama menggunakan seluruh hasil panen masyarakat selama satu tahun.
Menurut Arid, Tabenat Ta’uf memiliki filosofi mendalam. Kata “Tabena” dimaknai sebagai “menumbangkan kembali”, yaitu mengembalikan hasil bumi kepada asalnya sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, alam, dan para leluhur agar kesuburan tanah serta keberlangsungan kehidupan tetap terjaga pada musim tanam berikutnya.
“Tradisi ini mengajarkan bahwa manusia hidup berdampingan dengan alam. Apa yang diterima harus disyukuri dan dijaga agar terus memberi kehidupan bagi generasi berikutnya,” ujarnya.
Selain melestarikan budaya, festival juga diarahkan untuk memperkuat persatuan masyarakat adat, meningkatkan pengetahuan budaya bagi anak-anak muda, membuka peluang ekonomi keluarga, serta mengembangkan produk lokal melalui pameran UMKM yang secara khusus melibatkan warga Desa Tune dan desa-desa sekitar.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
