Beranda Ekonomi Bisnis Kadis Pertanian : Kegagalan Program Porang Karena Dicuri Masyarakat

Kadis Pertanian : Kegagalan Program Porang Karena Dicuri Masyarakat

386
0

Belu, Flobamora-news.com – Kadis Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Belu, Gerardus Mbulu mengungkapkan bahwa kegagalan program Porang atau Maek Bako yang ditanam di Hutan Jati Nenuk disebabkan karena sebagian besar Porang tersebut dicuri oleh masyarakat. Hal itu diungkapkannya ketika dikonfirmasi awak media melalui telepon seluler pada. Rabu (12/2/2020).

Gerardus Mbulu mengakui bahwa Maek Bako milik Pemda Belu di Nenuk, Desa Naekasa, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu itu gagal. Maek Bako yang menelan anggaran 1,3 Miliar dan dibudidaya Pemda Belu itu gagal karena tak nampak banyak tumbuh diatas lahan seluas 40 Ha itu.

“Saya juga baru masuk (Juli 2019, red). Lahannya Pemda itu memang kita tanam 2017. Kami kan ke lapangan, banyak Maek Bako sudah digali. Tapi ada yang tumbuh. Artinya bahwa memang ada Maek yang ditanam, tapi sangat jarang sekali. Tumbuh… tapi satu dua pohon,” jelas Kadis.

Dikatakan bahwa kegagalan itu disebabkan karena sebagian besar Porang dicuri oleh masyarakat.

“Iya, itu karena ada yang curi seperti kita dengar sendiri dari masyarakat. Ada orang yang curi,” ungkapnya.

Selain karena dicuri masyarakat, Gerardus juga mengaku bahwa kegagalan program senilai Rp 1,3 M karena kurangnya pengawasan dari pihaknya pada lahan penanaman Maek Bako di Lokasi Hutan Jati Nenuk.

“Sebenarnya, iya saya tidak mengatakan gagal. Saya terus terang masuk ke sana baru di Juli tahun 2019. kurang pantau itu (lokasi penanaman Maek Bako, red). Satu hal yang menjadi kelemahan itu, pengawasan. Karena tanpa dikawal akan menjadi percuma kita tanam di situ,” ucap Kadis.

Sebelumnya, diberitakan oleh media ini bahwa PLH Sekda Belu, Marsel Mau Meta menyebut masyarakat yang tinggal di sekitar Hutan Jati Nenuk, Desa Naekasa, Kecamatan Tasifeto Barat Kabupaten Belu mencuri Porang atau Maek Bako milik pemerintah Kabupaten Belu untuk ditanam di lahan milik warga.

Hal ini diungkapkan PLH Sekda Belu saat kunjungan Kerja Gubernur NTT, Viktor Laiskodat ke lahan porang milik warga di Hutan Jati, Nenuk pada Selasa (11/2/2020).

Pada kunjungan Kerja Gubernur NTT itu, Gubernur Viktor Laiskodat diajak mengunjungi lahan penanaman porang milik pemerintah Kabupaten Belu. Akan tetapi, dalam perjalanan, Rombongan Gubernur NTT diarahkan ke lahan Porang Milik warga.

Mama Yosefa de Jesus saat menjelaskan dari mana dirinya mendapatkan anakan Maek Bako

Sesampai di lokasi kegiatan, salah seorang anggota Pena Batas RI-RDTL menuturkan bahwa lokasi kegiatan tersebut bukan milik pemerintah.

Saat itu, PLH Sekda Belu, Marsel Mau Meta langsung membantah dengan menyebut bahwa masyarakat pemilik lahan mencuri Porang yang telah ditanam pemerintah Kabupaten Belu. Apa yang disampaikan PLH Sekda Belu ini pun didengar oleh beberapa wartawan.

Pernyataan ini pun mendapat reaksi kontra dari masyarakat pemilik lahan. Pemilik lahan, Yosefa de Jesus yang ditemui awak media usai pertemuan tersebut membantah keras pernyataan PLH Sekda Belu itu. “Itu tidak Benar,” tegas Mama Yosefa.

Dijelaskan bahwa program pemerintah Kabupaten Belu baru dimulai sejak tahun 2017. Sedangkan masyarakat susah mulai menanam Maek Bako sejak tahun 2009.

Dikatakan, mereka mendapatkan Maek Bako dari hutan yang sudah tumbuh liar sejak tahun 2009. Saat itu, mereka mencari kunyit untuk ditimbang sembari mengumpulkan Maek Bako untuk ditanam di lahan hutan jati.

“Saat itu, kami tahu bahwa Maek Bako sudah ada harga, makanya kami cari untuk tanam di sini,” jelas mama Yosafat.

Dijelaskan bahwa memang saat ini mereka menanam di lokasi hutan lindung. Namun, karena mereka mendapat ijin dari pihak kehutanan dengan catatan tidak menebang pohon, maka mereka pun mulai menanam Maek Bako.

“Kami memang tanam di lahan milik pemerintah, tapi kami tidak curi Maek Bako milik pemerintah,” tegas Yosefa.

PLH Sekda Belu, Marsel Mau Meta

PLH Sekda Belu, Marsel Mau Meta ketika dikonfirmasi menuturkan bahwa maksud dari pernyataan tersebut bukan menuding masyarakat mencuri, tapi mengambil dari lokasi Porang yang ditanami pemerintah Kabupaten Belu di Hutan Jati Nenuk.

“Jangan bilang curi. Kasihan orang. Orang su (sudah, red) kerja setengah mati, kita bilang curi lagi,” ujar PLH Sekda Belu.

Dijelaskan lebih lanjut bahwa masyarakat mungkin ingin membudidaya sendiri Maek Bako, sehingga mereka mengambil dari lahan yang sudah ditanam oleh Pemerintah Kabupaten Belu. Dengan begitu, masyarakat akan dengan mudah untuk memanen dan menjual Maek Bako.

“Kalau mereka ambil mungkin mereka butuh. Mereka mungkin ingin memiliki sendiri. Kalau mereka ingin rawat sendiri, mereka ambil tidak masalah to? Karena mereka pingin rawat sendiri, kemudian nanti mereka panen… panen sendiri, tidak usah tanya naik turun lagi to,” ujarnya.

Dikatakan, tidak masalah masyarakat mengambil dan membudidaya Maek Bako yang sudah ditanami pemerintah. Baginya, itu akan memberikan keuntungan untuk masyarakat.


Reporter: Ricky Anyan


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here