Beranda Hukum & Kriminal Rencana Putus Kontrak Semua Karyawan, Direktur RS Sumber Kasih Sejati Diadukan ke...

Rencana Putus Kontrak Semua Karyawan, Direktur RS Sumber Kasih Sejati Diadukan ke Nakertrans

144
0

BELU, Flobamora-news.com – Sejumlah Karyawan yang bekerja di Rumah Sakit Sumber Kasih Sejati Atambua melaporkan direkturnya ke Dinas Nakertrans Kabupaten Belu, Senin (23/9/2019). Pengaduan ini lantaran pihak manajemen rumah sakit berencana untuk memutuskontrakan semua karyawannya.

Menurut sumber media ini, mereka semua direncanakan akan diputuskontrakan lantaran ada pertikaian antara sang direktur rumah sakit, dr. Hendrik Roman Klaran dengan sang investor, Elias Bouk.

Pertikaian itu berujung pada rencana para karyawan hanya dibayar sampai bulan depan Oktober. Sedangkan sesuai dengan kontrak yang sudah mereka buat bersama, kontrak baru akan selesai pada Bulan Desember 2019 nanti.

Selain memutuskontrakan semua karyawan, Investor pun berencana untuk menutup Rumah Sakit tersebut. Tak hanya itu, sang investor pun langsung meminta beberapa karyawannya untuk mengemas semua barang yang berada di rumah sakit tersebut.

Sang Direktur pun langsung menampik rumor pertikaian antara dirinya dengan Investor yang menyebabkan rencana ditutupnya RS Sumber Kasih Sejati. Menurutnya, sang Investor memilih menutup karena kerugian yang dialaminya, bukan karena ada pertikaian.

“Oh tidak. Kami tidak ada masalah. Kalau investor mundur itu masalahnya karena kerugian yang dialaminya,” elaknya.

Terkait dengan pengaduan beberapa karyawan ke Dinas Nakertrans Kabupaten Belu, Kepala Dinas Nakertrans Belu, Laurentius Nahak membenarkan hal tersebut. Dirinya menuturkan bahwa laporan tersebut terkait adanya rencana dari pihak manajemen yang ingin memutuskontrakan para karyawan.

“Benar tadi ada laporan dari beberapa orang karyawan Rumah Sakit Sumber Kasih Sejati ke Dinas Nakertrans,” ujarnya ketika dihubungi media ini via telepon seluler.

Dikatakan bahwa pihaknya masih mempelajari kasus tersebut. Rencananya pihak Nakertrans Belu akan mempertemukan pihak Karyawan dengan pihak manajemen pada Rabu, (25/9/2019).

“Kita masih pelajari dulu. Kalau memang benar, maka kita akan melakukan mediasi pada Rabu nanti setelah saya pulang dari luar kota,” tutur Laurentius.

Terkait dengan nasib karyawan yang bekerja di RS Sumber Kasih Sejati, dr. Hendrik pun tidak bisa memastikannya. Menurutnya, sesuai dengan kontrak kerja yang sudah dibuat, maka para karyawan akan dibayar selama enam bulan dan akan berakhir pada Bulan Desember 2019 nanti. Akan tetapi, semuanya itu tergantung pada pemilik atau sang investor.

“Nasib Karyawan ini kita sudah buat kontrak kerja. Kontrak kerja itu selama enam bulan. Sekarang kita sudah berjalan tiga bulan. Tiga bulan sisanya mereka harusnya tetap punya hak atau tetap menerima gaji sebagai mana tertera di dalam kontrak itu. Semua itu sangat tergantung pada pemilik (investor, red). Kontrak itu dibuat atas kesepakatan bersama dengan pemilik. Karena itu kita hanya mengeluarkan kontraknya hanya enam bulan saja,” ujarnya.

Sebelumnya diberitakan oleh media ini terkait adanya rencana penutupan Rumah Sakit Sumber Kasih Sejati dengan judul, “Belum Genap Empat Bulan Diresmikan, Salah Satu Rumah Sakit di Belu Ini Terancam Ditutup”.

Diberitakan bahwa belum genap bulan diresmikan, Salah satu Rumah Sakit di Kabupaten Belu, Rumah Sakit Sumber Kasih Sejati terancam gulung tikar lantaran sang investor kecewa karena telah mengeluarkan biaya pembangunan begitu besar, namun pemasukan yang didapatnya sangat kecil. Hal tersebut diungkapkan oleh Direktur Rumah Sakit Sumber Kasih Sejati, dr. Hendrik Roman Klaran ketika dihubungi media ini pada, Senin (23/9/2019).

Dikatakan bahwa pemilik Rumah Sakit Sumber Kasih Sejati Adalah investor. Menurut sang investor, biaya yang dikeluarkannya selama ini sangat besar, namun pemasukan yang didapatnya sangat sedikit. Karena itu, dirinya berencana untuk menutup Rumah Sakit yang beralamat di Jl. Meo baru, Tenukiik RT 009, RW 003, Kelurahan Tenukiik, Kecamatan Kota Atambua, Kabupaten Belu, Perbatasan RI-RDTL itu.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa pemasukan yang sedikit disebabkan karena Rs Sumber Kasih Sejati belum diperkenankan untuk melayani pasien BPJS. RS Sumber Kasih Sejati hanya diperkenankan untuk melayani pasien umum.

Untuk diketahui, dengan adanya Program Kesehatan Gratis yang diusung Presiden Joko Widodo, maka hampir seluruh masyarakat Kabupaten Belu telah masuk menjadi anggota BPJS. Hal inilah yang menyebabkan jarang sekali ada pasien umum non BPJS yang dirawat di Rumah Sakit.

“Di Kabupaten Belu, hampir semua masyarakat sudah memiliki BPJS. Jarang sekali ada orang yang mau berobat sebagai pasien umum. Jadi kalau kita diperkenankan untuk melayani pasien BPJS, maka kita bisa memperoleh pemasukan yang banyak. Namun, bila kita hanya melayani pasien umum saja, maka kemungkinan kita bisa bangkrut,” pungkas dr. Hendrik.

Mengapa RS milik pengusaha kaya Timor Leste ini tidak bisa melayani BPJS? Sesuai dengan Peraturan yang dikeluarkan Kementrian Kesehatan Tahun 2019, hanya rumah sakit yang terakreditasi saja yang melayani pasien BPJS.

Dijelaskan bahwa setelah melaksanakan peresmian Rumah Sakit pada 29 Mei 2019 silam, Pihak Rumah Sakit langsung berusaha mengadakan kerja sama dengan BPJS Kesehatan Kabupaten Belu.

Dikatakan, dalam proses kerjasama tersebut, ada 14 syarat yang diberikan oleh Pihak BPJS Kesehatan kepada pihak Rumah Sakit Sumber Kasih Sejati. Dari 14 syarat tersebut, 13 syarat lainnya dapat dipenuhi. Sayangnya, satu syarat lainnya yaitu terkait akreditasi rumah sakit yang belum bisa dipenuhi oleh pihak Rumah Sakit Sumber Kasih Sejati.

Menyikapi hal tersebut, Pihak Rumah sakit pun langsung mendaftarkan diri ke KARS (Komisi Akreditasi Rumah Sakit) untuk mengikuti akreditasi. “Karena itu, dalam satu bulan ini, kami sementara membuat semua kelengkapan dan menyusun standar-standar pelayanan,” jelasnya.

Menurut dr. Hendrik, ada dua kendala utama dalam mengurus akreditasi rumah sakit. Pertama, waktu. Dikatakan, waktu dalam mengurus akreditasi tak tentu. Bisa enam bulan sampai satu tahun. Kedua, biaya. Untuk mengurus akreditasi membutuhkan biaya yang cukup besar, bisa mencapai miliaran rupiah.

Ketika hal ini diketahui oleh Investor Elias Bouk, dirinya langsung memutuskan untuk lebih baik menutup rumah sakit miliknya itu.


Reporter: Ricky Anyan


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here