Beranda Ekonomi Bisnis Sebut Masyarakat Curi Porang, Fraksi Gerindra: Itu Merendahkan Kami

Sebut Masyarakat Curi Porang, Fraksi Gerindra: Itu Merendahkan Kami

1775
0

Belu, Flobamora-news.com – Polemik pernyataan PLH Sekda Belu, Marsel Mau Meta terus menuai kontroversi dari kalangan Anggota DPRD Kabupaten Belu. Pasalnya, PLH Sekda Belu menyebutkan bahwa masyarakat yang tinggal di sekitar Hutan Jati Nenuk, Desa Naekasa, Kecamatan Tasifeto Barat Kabupaten Belu mencuri Porang atau Maek Bako milik pemerintah Kabupaten Belu untuk ditanam di lahan milik warga.

Kali ini, Fraksi Gerindra ikut memberikan mengomentari apa yang disampaikan oleh PLH Sekda Belu itu. Ketua Fraksi Gerindra Kabupaten Belu, Awalde Berek menuturkan bahwa apa yang disampaikan oleh PLH Sekda Belu itu merendahkan Anggota Dewan. Pasalnya, Anggota Dewan sendiri merupakan representasi dari masyarakat itu sendiri.

“Berbicara seperti itu berarti merendahkan kami (Anggota Dewan, red) karena kami merupakan representasi dari masyarakat. Inikan masyarakat kami, konstentuen kami!” Demikian tegas mantan Ketua DPRD Kabupaten Belu Periode 2015-2019 itu. “Tidak boleh itu,” lanjutnya.

Dikatakan bahwa Pemerintah sudah merencanakan dan menganggarkan untuk program Maek Bako. Akan tetapi, bila program tersebut gagal, maka pemerintah harus berbesar hati untuk menyatakan kepada masyarakat bahwa program itu gagal daripada menyembunyikan hal itu.

“Kalau kami (Fraksi Gerindra, red) begini, pemerintah sudah merencanakan dan menganggarkannya, tapi bila apa yang sudah kita rencanakan dan anggarkan itu gagal, maka katakan kepada masyarakat dan media bahwa memang ini gagal. Tidak apa-apa… lebih bagus to? Daripada kita sembunyikan itu,” jelas Ketua Fraksi Pengusung Paket Sahabat Periode 2016-2019 itu. “Apalagi bilang masyarakat curi, itu lebih salah,” lanjutnya.

Dikatakan bahwa, masyarakat yang menanam Maek Bako di Hutan Jati sehari-hari bekerja menggali kunyit untuk ditimbang dan Maek Bako untuk ditanam kembali. Selain itu, mereka juga mengumpulkan pasir di sungai Talau untuk dijual kepada pihak ketiga maupun masyarakat yang membutuhkan batu dan pasir.

Sebelumnya, diberitakan oleh media ini bahwa PLH Sekda Belu, Marsel Mau Meta menyebut masyarakat yang tinggal di sekitar Hutan Jati Nenuk, Desa Naekasa, Kecamatan Tasifeto Barat Kabupaten Belu mencuri Porang atau Maek Bako milik pemerintah Kabupaten Belu untuk ditanam di lahan milik warga.

Hal ini diungkapkan PLT Sekda Belu saat kunjungan Kerja Gubernur NTT, Viktor Laiskodat ke lahan porang milik warga di Hutan Jati, Nenuk pada Selasa (11/2/2020).

PLT Sekda Belu, Marsel Mau Meta

Pada kunjungan Kerja Gubernur NTT itu, Gubernur Viktor Laiskodat diajak mengunjungi lahan penanaman porang milik pemerintah Kabupaten Belu. Akan tetapi, dalam perjalanan, Rombongan Gubernur NTT diarahkan ke lahan Porang Milik warga.

Sesampai di lokasi kegiatan, salah seorang anggota Pena Batas RI-RDTL menuturkan bahwa lokasi kegiatan tersebut bukan milik pemerintah.

Saat itu, PLT Sekda Belu, Marsel Mau Meta langsung membantah dengan menyebut bahwa masyarakat pemilik lahan mencuri Porang yang telah ditanam pemerintah Kabupaten Belu. Apa yang disampaikan PLT Sekda Belu ini pun didengar oleh beberapa wartawan.

Pernyataan ini pun mendapat reaksi kontra dari masyarakat pemilik lahan. Pemilik lahan, Yosefa de Jesus yang ditemui awak media usai pertemuan tersebut membantah keras pernyataan PLT Sekda Belu itu.

“Itu tidak Benar,” tegas Mama Yosefa.

Mama Yosefa de Jesus saat menjelaskan dari mana dirinya mendapatkan anakan Maek Bako

Dijelaskan bahwa program pemerintah Kabupaten Belu baru dimulai sejak tahun 2017. Sedangkan masyarakat susah mulai menanam Maek Bako sejak tahun 2012.

Dikatakan, mereka mendapatkan Maek Bako dari hutan yang sudah tumbuh liar sejak tahun 2012. Saat itu, mereka mencari kunyit untuk ditimbang sembari mengumpulkan Maek Bako untuk ditanam di lahan hutan jati.

“Saat itu, kami tahu bahwa Maek Bako sudah ada harga, makanya kami cari untuk tanam di sini,” jelas mama Yosafat.

Dijelaskan bahwa memang saat ini mereka menanam di lokasi hutan lindung. Namun, karena mereka mendapat ijin dari pihak kehutanan dengan catatan tidak menebang pohon, maka mereka pun mulai menanam Maek Bako.

“Kami memang tanam di lahan milik pemerintah, tapi kami tidak curi Maek Bako milik pemerintah,” tegas Yosefa.

PLT Sekda Belu, Marsel Mau Meta ketika dikonfirmasi menuturkan bahwa maksud dari pernyataan tersebut bukan menuding masyarakat mencuri, tapi mengambil dari lokasi Porang yang ditanami pemerintah Kabupaten Belu di Hutan Jati Nenuk.

“Jangan bilang curi. Kasihan orang. Orang su (sudah, red) kerja setengah mati kita bilang curi lagi,” ujar PLH Sekda Belu.

Dijelaskan lebih lanjut bahwa masyarakat mungkin ingin membudidaya sendiri Maek Bako, sehingga mereka mengambil dari lahan yang sudah ditanam oleh Pemerintah Kabupaten Belu. Dengan begitu, masyarakat akan dengan mudah untuk memanen dan menjual Maek Bako.

“Kalau mereka ambil mungkin mereka butuh. Mereka mungkin ingin memiliki sendiri. Kalau mereka ingin rawat sendiri, mereka ambil tidak masalah to? Karena mereka pingin rawat sendiri, kemudian nanti mereka panen… panen sendiri, tidak usah tanya naik turun lagi to,” jelasnya.

Dikatakan, tidak masalah masyarakat mengambil dan membudidaya Maek Bako yang sudah ditanami pemerintah. Baginya, itu akan memberikan keuntungan untuk masyarakat.


Reporter: Ricky Anyan


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here