Beranda Hukum & Kriminal Diduga Mantan Kepala Desa di Belu Berhasil Tipu Masyarakat Ratusan Juta Rupiah

Diduga Mantan Kepala Desa di Belu Berhasil Tipu Masyarakat Ratusan Juta Rupiah

120
0
Mantan Kepala Desa Nanaet, Kandrianus Taek

BELU, Flobamora-news.com – Mantan Kepala Desa di Kabupaten Belu, Perbatasan RI-RDTL, diduga berhasil menipu ratusan masyarakat desa setempat untuk pembuatan sertivikat tanah yang belum bersertivikat. Tak hanya itu, mantan Kepala Desa itu pun meminta masyarakatnya untuk mengumpulkan sejumlah uang untuk proses sertifikasi itu. Akan tetapi, hingga saat ini, tak ada satu lahan tanah pun yang dikavling.

Kepala desa itu berinisial Kandrianus Taek, yang saat ini merupakan mantan Kepala Desa Nanaet, Kecamatan Nanaetdubesi, Kabupaten Belu, NTT. Dirinya menjabat sebagai kepala desa pada periode 2013-2019.

Kejadian itu, terjadi pada tahun 2015 saat suksesi pemilihan kepala daerah sedang berlangsung. Kepala Desa pun meminta warganya untuk wajib membayar uang makan-minum serta akomodasi perjalanan bagi para pegawai Pertanahan. Perbidang tanah dikenakan biaya sebesar Rp 150.000. Total uang yang berhasil dikumpulkan sebesar Rp 140 juta.

Saat itu, sang kepala desa mengumpulkan seluruh masyarakatnya di salah satu dusun dengan alasan akan ada sosialisasi soal penanaman pilar yang dilakukan oleh Dinas Pertahanan Kabupaten Belu sekaligus sertivikasi tanah.

Akan tetapi, setelah masyarakat berkumpul, mereka diminta untuk melantunkan yel-yel salah satu pasang calon. Ternyata, pertemuan itu merupakan kampanye dari salah satu calon kepala daerah. Tidak ada pembahasan soal sertivikat atau pemasangan pilar yang dilakukan oleh Dinas Pertanahan.

Ternyata, program tersebut merupakan sebuah program fiktif yang dibuat oleh salah satu pasang calon tersebut. Mantan Desa Kandrianus yang merupakan tim sukses dari calon tersebut pun mulai kalang kabut ketika calon bupati yang diusungnya kalah dalam Pilkada. Dengan sendirinya, rencana program tersebut pun tidak berjalan.

Beberapa masyarakat datang dan menanyakan kepada Kandrianus soal uang untuk sertivikasi tanah yang sudah mereka kumpulkan. Namun, jawabannya selalu sama… nanti dan nanti. Jawaban itu terus dikumandangkan hingga masa akhir jabatannya berakhir pada 16 Mei 2019 lalu. Bahkan, Uang masyarakat itu pun tak pernah dikembalikan hingga saat ini.

Tak puas dengan kelakuan sang mantan kepala desa, beberapa orang Warga Nanaet mendatangi Dinas Pertanahan Kabupaten Belu untuk mempertanyakan kejelasan program tersebut.

Di sana mereka mendapat penjelasan bahwa program tersebut merupakan program pemetaan dari pemerintah pusat. Tidak dipungut biaya sepersen pun.

Dikatakan bahwa memang benar ada empat orang pegawai yang pergi melakukan survey di Desa Nanaet selama tiga hari. Namun, biaya akomodasi sudah ditanggung oleh Dinas Pertanahan Kabupaten Belu.

“Apa masuk akal uang Rp 140 juta dipakai untuk makan-minum dan biaya perjalanan selama tiga hari?” Demikian tutur Akriandus Manek, salah satu warga Nanaet kepada Flobamora-news.com (15/10/2019).

Kandrianus yang dihubungi media ini beberapa waktu lalu (9/9/2019) membantah bahwa dirinya telah menipu warganya. Dikatakan bahwa uang yang dikumpulkan dari masyarakat untuk pembuatan pilar dan sertivikat tanah. Uang tersebut masih ada pada dirinya. Karena itu, dirinya akan mengembalikan semua uang pada akhir September 2019.

Dikatakan bahwa uang tersebut dikumpulkan untuk diberikan kepada para pegawai pertanahan sebagai akomodasi perjalanan dan uang makan minum. Selain itu, sisa uang itu akan digunakan untuk pembuatan sertivikat tanah dan pemasangan pilar.

“Saya tidak makan uang itu. Uang itu masih ada. Saya akan kembalikan akhir bulan ini (September 2019, red),” elaknya.

Akan tetapi, hingga saat ini, uang milik warga itu belum dikembalikan oleh Mantan Desa, Kandianus Taek.

Salah seorang warga Nanaet, Simon Yos Asa ketika dihubungi media ini pada, Selasa (15/10/2019) mengatakan bahwa mereka sama sekali belum menerima kembali uang mereka.

“Kami sama sekali belum menerima uang yang sudah kami kumpulkan pada tahun 2015 lalu,” terangnya.

Terkait dengan masalah tanah itu, beberapa orang warga pernah melaporkannya ke Kejaksaan Negeri Belu dan Tipikor Polres Belu pada tanggal 17 Juni 2019 silam. Menurut Simon, selain masalah tanah, masih ada beberapa masalah lain lagi yang mereka laporkan terkait dengan penyalahgunaan dana desa. Akan tetapi, masalah tersebut masih didiamkan hingga saat ini.

Simon berharap agar pihak keamanan dapat segera mengusut tuntas uang milik masyarakat yang telah diambil mantan desanya itu.

“Pemimpin seperti apa itu. Jangankan dana desa, uang milik masyarakat saja dimakannya. Karena itu, kami harap pihak yang berwajib tidak tinggal diam dengan masalah ini,” cetusnya.


Reporter: Ricky Anyan


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here