Beranda Ekonomi Bisnis Tudingan PLT Sekda Belu Kepada Masyarakat Menuai Kontroversi dari Pimpinan DPRD

Tudingan PLT Sekda Belu Kepada Masyarakat Menuai Kontroversi dari Pimpinan DPRD

1234
0

Belu, Flobamora-news.com – Tudingan PLT Sekda Belu, Marsel Mau Meta yang menyebut bahwa masyarakat yang tinggal di sekitar Hutan Jati Nenuk, Desa Naekasa, Kecamatan Tasifeto Barat Kabupaten Belu mencuri Porang atau Maek Bako milik pemerintah Kabupaten Belu untuk ditanam di lahan milik warga. Ucapan ini pun lantas memuai kontroversi dari salah satu Pimpinan DPRD Kabupaten Belu, Cypri Temu.

Wakil Ketua II DPRD Belu ini dengan keras menegur PLT Sekda Belu untuk tidak seenaknya menyalahkan masyarakat.

“Kita pemerintah itu tidak boleh menyalahkan rakyat, apalagi menuduh rakyat mencuri! Ini kan sangat disayangkan, bagaimana rakyat dituduh mencuri?” Demikian tulis Politisi Partai Nasdem itu melalui pesan Whatsapp-nya, Rabu (12/2/2020).

Lebih lanjut dikatakan bahwa Pemerintah Kabupaten Belu asal-asalan dalam mengerjakan proyek Porang sebesar Rp 1,3 M. Akibatnya, hasilnya pun tidak memuaskan. Selain itu, tidak adanya pengawasan membuat gagalnya proyek tersebut.

“Kerja tidak betul, hasil tidak ada, pengawasan tidak ada baru mengkambinghitamkan rakyat. Ini kan pemerintahan yang konyol!” Demikian tegasnya.

Menurut Cypri, Pemerintah Kabupaten Belu harus jujur mengatakan bahwa program Porang senilai Rp 1,3 M adalah sebuah program yang gagal. Karena itu, pemerintah harusnya mengevaluasi proyek tersebut. Bila kesalahannya ada pada pihak ke III, maka pihak pemerintah harus memroses pihak ketiga yang menangani proyek tersebut. “Bukan kita bilang rakyat yang curi! Wah ini payah, Mengkambinghitamkan masyarakat”.

Dikatakan, pemerintah seharusnya berani terbuka dan jujur kepada Pemerintah Provinsi NTT bahwa apa yang telah dilakukan Pemerintah Kabupaten Belu itu adalah sebuah kegagalan. Setelah itu, barulah dibandingkan dengan apa yang dimiliki oleh masyarakat.

“Harus berani terbuka dan jujur, kalau gubernur minta lokasi porang untuk ditinjau, tunjuk yang punya pemerintah, baru bandingkan dengan yang punya rakyat, Jangan sembunyi!” Demikian tegas Cypri Temu.

Wakil Ketua II DPRD Belu, Cypri Temu

“Tunjukkan itu, kalau gubernur datang bahwa ini kami punya gagal, ini uang sekian, secara transparan, jangan sembunyi,” lanjutnya.

Cypri berjanji bahwa dalam waktu dekat, dirinya akan meminta Komisi I, DPRD Kabupaten Belu untuk segera melakukan rapat dengan Inspektorat guna mengecek sejauh mana pengawasan yang telah dilakukan oleh lembaga tersebut.

“Dalam waktu dekat, Saya akan minta Komisi I untuk segera rapat dengan inspektorat untuk cek sejauh mana dia punya pengawasan,” ujarnya.

Dirinya juga meminta kepada Pihak penegak hukum untuk mengusut tuntas proyek tersebut.

Sebelumnya, diberitakan oleh media ini bahwa PLT Sekda Belu, Marsel Mau Meta menyebut masyarakat yang tinggal di sekitar Hutan Jati Nenuk, Desa Naekasa, Kecamatan Tasifeto Barat Kabupaten Belu mencuri Porang atau Maek Bako milik pemerintah Kabupaten Belu untuk ditanam di lahan milik warga.

Hal ini diungkapkan PLT Sekda Belu saat kunjungan Kerja Gubernur NTT, Viktor Laiskodat ke lahan porang milik warga di Hutan Jati, Nenuk pada Selasa (11/2/2020).

Pada kunjungan Kerja Gubernur NTT itu, Gubernur Viktor Laiskodat diajak mengunjungi lahan penanaman porang milik pemerintah Kabupaten Belu. Akan tetapi, dalam perjalanan, Rombongan Gubernur NTT diarahkan ke lahan Porang Milik warga.

Sesampai di lokasi kegiatan, salah seorang anggota Pena Batas RI-RDTL menuturkan bahwa lokasi kegiatan tersebut bukan milik pemerintah.

Saat itu, PLT Sekda Belu, Marsel Mau Meta langsung membantah dengan menyebut bahwa masyarakat pemilik lahan mencuri Porang yang telah ditanam pemerintah Kabupaten Belu. Apa yang disampaikan PLT Sekda Belu ini pun didengar oleh beberapa wartawan.

Pernyataan ini pun mendapat reaksi kontra dari masyarakat pemilik lahan. Pemilik lahan, Yosefa de Jesus yang ditemui awak media usai pertemuan tersebut membantah keras pernyataan PLT Sekda Belu itu. “Itu tidak Benar!”

Dijelaskan bahwa program pemerintah Kabupaten Belu baru dimulai sejak tahun 2017. Sedangkan masyarakat susah mulai menanam Maek Bako sejak tahun 2012.

Dikatakan, mereka mendapatkan Maek Bako dari hutan yang sudah tumbuh liar sejak tahun 2012. Saat itu, mereka mencari kunyit untuk ditimbang sembari mengumpulkan Maek Bako untuk ditanam di lahan hutan jati.

“Saat itu, kami tahu bahwa Maek Bako sudah ada harga, makanya kami cari untuk tanam di sini,” jelas mama Yosafat.

Dijelaskan bahwa memang saat ini mereka menanam di lokasi hutan lindung. Namun, karena mereka mendapat ijin dari pihak kehutanan dengan catatan tidak menebang pohon, maka mereka pun mulai menanam Maek Bako.

“Kami memang tanam di lahan milik pemerintah, tapi kami tidak curi Maek Bako milik pemerintah,” tegas Yosefa.


Reporter: Ricky Anyan


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here