Beranda Internasional Tak Diperhatikan Selama 21 Tahun, Para Pejuang Timor-Timur Ancam Pulang ke Tanah...

Tak Diperhatikan Selama 21 Tahun, Para Pejuang Timor-Timur Ancam Pulang ke Tanah Kelahiran

1211
0

Belu, Flobamora-news.com – 21 Tahun sudah Timor Leste memisahkan diri dari Indonesia. Setelah referendum yang diadakan pada tanggal 30 Agustus 1999, di bawah perjanjian yang disponsori oleh PBB antara Indonesia dan Portugal, mayoritas penduduk Timor Leste memilih merdeka dari Indonesia.

Antara waktu referendum sampai kedatangan pasukan perdamaian PBB pada akhir September 1999, kaum anti-kemerdekaan yang konon didukung Indonesia membantu lebih dari 300.000 warga untuk mengungsi ke Timor Barat.

Tak hanya itu, dalam proses kemerdekaan itu, lebih dari 1.400 jiwa meninggal dunia. Sebagian besar infrastruktur seperti rumah, sistem irigasi, air, sekolah dan listrik hancur.

Pada 20 September 1999 pasukan penjaga perdamaian International Force for East Timor (INTERFET) tiba di Timor Timur dan mengakhiri perang kemerdekaan itu.

Pada 20 Mei 2002, Timor Timur diakui secara internasional sebagai negara merdeka dengan nama Timor Leste dengan sokongan luar biasa dari PBB.

Bagi para pejuang yang anti kemerdekaan terdapat sebuah dilematis dalam diri mereka – antara cinta tanah air Indonesia atau cinta pada tanah kelahirannya. Cinta tanah air artinya mereka harus pergi meninggalkan semua yang telah mereka miliki; adat-istiadat, tanah, rumah, dan semua kemewahan yang mereka punya. Mereka harus memulai hidup baru dalam penderitaan di Tanah pengungsian dengan harapan ada bantuan dan perhatian dari pemerintah Indonesia atau sebaliknya. Namun, karena cintanya yang begitu besar terhadap NKRI, maka mereka rela meninggalkan apa yang telah mereka miliki selama ini dan datang ke tanah pengungsian dengan tangan kosong.

21 tahun berlalu. Para pejuang Timor Timur dengan semangat patriotismenya tetap bertahan hidup di tanah pengungsian. Penderitaan dan kelaparan adalah teman hidup mereka sehari-hari. Mereka tetap berpegang pada sebuah cerita dongeng tentang sebuah harapan akan adanya perhatian dari pemerintah Indonesia kepada mereka.

Akan tetapi, harapan itu ibarat menjaring angin. Hanya sebuah kesia-siaan yang mereka dapatkan. Janji pemerintah Indonesia ibarat gombal seorang pria muda kepada gadis labil yang terus memberikan harapan palsu.

Nasib mereka jauh dari apa yang dialami oleh Pemberontak (Gerakan Aceh Merdeka) GAM dan Organisasi Papua Merdeka (OPM). GAM diberikan perhatian khusus oleh Indonesia dengan memberikan kebebasan kepada mereka untuk membentuk Partai Lokal. Perhatian lebih pun dialami oleh OPM. Mereka diberikan tunjangan khusus oleh pemerintah Indonesia. Sedangkan para pejuang Timor Timur hanya mendapatkan janji palsu.

Atas dasar rasa sakit hati itulah, para pemimpin dari pejuang 10 kabupaten yang ada di Timor Timur berkumpul di Hotel Nusantara Dua Atambua (2/5/2020). Mereka yang tergabung dalam sebuah paguyuban Pejuang Timor Timur kembali membahas surat yang telah mereka kirimkan kepada Presiden Indonesia dan Kementerian Pertahanan pada tanggal 21 April 2020 lalu.

Dalam enam tuntutan dalam surat, ada dua poin penting permintaan mereka kepada pemerintah pusat. Paguyuban yang dikoordinatori oleh Canicio Lopes De Carvalho, SH itu meminta kompensasi bagi para pejuang dan juga kemudahan untuk menjadi Veteran Republik Indonesia kepada 4115 orang pejuang Timor Timur.

“Kami berjuang membela Negara dan Bangsa Indonesia selama 24 tahun. Sampai sekarang nasib kami terbengkalai selama 21 tahun di Republik Indonesia,” tegas Canicio.

Dokumentasi Pejuang Timor Timur saat referendum tahun 1999 lalu

Mereka bukan pemberontak seperti GAM dan OPM. Mereka adalah pejuang yang telah diakui secara resmi oleh negara.

“Kami tidak hanya menglaim diri kami sebagai seorang pejuang. Kami juga sertakan lampiran foto copy sertivikat dan piagam penghargaan dari pemerintah Indonesia yang telah menyatakan kam sebagai pejuang Timor Timur,” jelas Canicio.

Canicio meminta kepada Pemerintah Indonesia segera memenuhi tuntutan yang sudah mereka berikan secepat mungkin. Apabila tuntutan itu tidak dipenuhi, maka para pejuang Timor Timur bersepakat untuk mengadakan kongres luar biasa di Atambua. Kongres itu akan membahas sikap politik para pejuang Timor Timur untuk tetap tinggal di Indonesia atau kembali ke tanah leluhurnya.

“Perlu saya tegaskan di sini. Penderitaan kami sudah berlangsung 21 tahun. Oleh karena itu, kami semua sepakat, apabila aspirasi kami tidak direspon, maka kami akan mengadakan kongres luar biasa Pejuang Timor Timur di Atambua untuk menentukan sikap politik; apakah kami tetap tinggal di Indonesia dalam keadaan seperti ini – mati satu per satu atau harus pulang ke Timor Leste dengan membawa serta Merah Putih?” Demikian Tegas Canicio menutupi pertemuan itu.


Reporter: Ricky Anyan


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here