Pembangunan jalan tersebut tidaklah gratis, karena Daendels sudah menyiapkan upah untuk semua pekerja yang terlibat. Hasilnya, sepanjang jarak 1000 km itu, Daendels membangun 12 pesanggrahan, 126 stasiun untuk kereta, 51 stasiun untuk penggantian kuda-kuda pos. Jangan-jangan Daendels bisa disebut “Bapak Infrastruktur” juga?
Ketika Kepentingan Nasional Indonesia Mendapat Halangan
Sekali lagi, Saya tak bermaksud membandingkan sosok Presiden Prabowo dengan Daendels. Saya justru ingin menyoroti pihak-pihak yang merugikan kepentingan nasional Indonesia. Daendels menjadi contoh dalam tulisan ini, karena ia melakukan banyak program di Jawa dalam waktu pemerintahannya yang singkat, hanya tiga tahun (1809-1811), demi kepentingan nasional negaranya.
Jika dulu Daendels mengeksploitasi sumber daya alam Indonesia, demi kepentingan negaranya (Belanda di bawah Perancis). Sebaliknya dengan Presiden Prabowo yang bertekad mengamankan sumber daya alam Indonesia dari eksploitasi asing. Contohnya dengan kebijakan pembatasan ekspor nikel atas nama hilirisasi industri nikel, juga kebijakan moratorium izin tambang nikel baru.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
