“Awalnya kami melihat ada banyak orang yang merasa dikucilkan atau tidak dirangkul. Karena itu kami hadir untuk mengajak mereka bersama-sama dalam kegiatan positif, menebar kebaikan, dan membangun kebersamaan,” ujar Catur.
Ia mengatakan, anggota komunitas berasal dari berbagai latar belakang kehidupan, termasuk anak jalanan, mantan pemabuk, hingga mereka yang pernah terlibat perkelahian. Namun melalui pendekatan kekeluargaan dan komunikasi yang intensif, mereka perlahan dibina untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.
“Tantangan terbesar adalah bagaimana merangkul anak-anak muda ini dengan sabar. Harus sering berkomunikasi dan mendampingi mereka. Kalau tidak ada komunitas yang membina, mereka bisa kehilangan arah,” katanya.
Menurutnya, pendekatan yang digunakan komunitas lebih menitikberatkan pada rasa kekeluargaan dan kebersamaan tanpa membedakan latar belakang seseorang.
Selain kegiatan sosial, komunitas tersebut juga rutin menggelar kegiatan mengaji setiap malam Minggu sebanyak dua kali dalam sebulan. Kegiatan itu dikemas secara santai melalui konsep “ngopi” atau ngobrol pintar, sehingga para anggota merasa nyaman untuk berdiskusi, belajar, dan saling menguatkan.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
