Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Opini  

Kopi Ber-Sensasi Rasa Literasi

(Aroma Awal “Festival Literasi” di Mbay-Nagekeo)

Oleh : Gusty Rikarno, S.Fil
Jurnalis Media Pendidikan Cakrawala NTT

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

KUPANG, Flobamora-news.com – Fidelis Sawu, S.Fil, nama dan gelarnya. Berprofesi kepala sekolah (SMKS Setiawan Nangaroro-Kab. Nagekeo). Walaupun usia kami terpaut jauh namun jiwanya tetap terlihat muda. Kami akrab. Bukan karena sering bertemu dan berkomunikasi tetapi karena memiliki hobi sama. Bercerita (berdiskusi) dan menulis dalam aneka ragam tema. Cerita hidup biasa (remeh-temeh) terkadang harus diulas dalam bentuk paragraf ber-nafas filsafat. Semua tema dikupas, diolah dan dikunyah hingga tuntas. Keinginan untuk “keluar dari diri” dan “bertengkar” dengan situasi nyata, itulah kami.

Baca Juga :  Dilematika Seleksi Perangkat Desa Serentak Kabupaten TTS

Pagi ini kami bercerita hangat. Pengeras suara telphon sengaja dibuka. Ada segumpal angin yang bertiup lembut membawa suhu yang tidak biasa. Dingin. Kupang dan Nangaroro ber-daerah pesisir, berubah rasa seperti berada di puncak gunung. Ia (Fidelis) bercerita tentang kopi Bajawa yang selalu membawa rasa hangat bersama lezatnya pisang goreng. Terasa sempurna. Saya selalu menunggu ia berkelakar untuk mengirim beberapa bungkus kopi tepung. Dalam setiap candanya, saya selalu percaya jika itu benar. Memang selalu begitu. Dalam beberapa hari kemudian saya pasti mendapat WA lanjutan kalau kopinya sudah dikirim.

Baca Juga :  Jokowi dan Kekuasaan Jawa

“Kopi Bajawa itu berbeda dengan kopinya orang Manggarai. Kopi Bajawa itu ber-aroma lain. Kamu adalah penikmat kopi pasti mengenal baik. Ada rasa sepat ditegukkan terakhirnya. Berdiamlah sejenak dan biarkan rasa itu datang. Hmmm… ekstasinya dapat. Satu dua hari ini saya coba jalan-jalan ke Ende. Siapa tahu, di sekitar bandara ada yang rela membawa kopi Bajawa itu ke Kupang. Ingat, itu kopi Bajawa, bukan kopinya orang Manggarai. Warnanya sama tapi nuansa rasa dan sensasinya beda”, katanya dalam tawa.

Baca Juga :  Jakarta Belum Memiliki Strategi Mengantisipasi Kebakaran

Di saat begini, kekasihku (istri) hanya bisa menguping dan tersenyum sendiri. Ia tahu hobiku itu. Bercerita, ngakak, berdiam diri bersama buku dan duduk manis menulis. Kami bercerita lagi. Di bulan Agustus nanti, pemerintah Nagekeo akan menggelar “festival literasi”. Kami terdiam sejenak seakan sedang mencari defenisi yang tepat tentang festival antik itu. Benar. Festival lazimnya selalu membawa nuasa gembira, semarak dan penuh makna. Kali ini temanya antik. Festival literasi. Kenapa antik? Jawab saja, karena festival ini baru pertama kali digelar di NTT.