Tinggal di Gubuk Reot, Nenek di Belu ini Tidak Pernah Berharap Bantuan Orang lain

FlobamoraNews

Belu, Flobamora-news.com – Di Usia uzurnya, sakit menjadi sahabat yang selalu menemaninya. Tak banyak yang dibuatnya selain berdoa memohon kepada Yang Empunya Hidup agar kesembuhan kembali datang pada dirinya.

Nenek Elisabet Meni namanya. Dia Tinggal di sebuah gubuk reot berukuran 4×3 meter di Desa Mandeu, Kecamatan Raimanuk, Kabupaten Belu, Perbatasan RI-RDTL.

Beratapkan jerami, dinding gubuknya dibuat dari bambu yang ditambal seng bekas yang mereka ambil di tempat pembuangan sampah. Gubuk itu hanya memiliki satu pintu yang tingginya tidak sampai dua meter membuat kita harus membungkuk bila ingin masuk ke dalamnya.

Baca Juga :  Terkait Kejadian Pemukulan Pada Pembukaan Soeratin Cup 2019, Pelatih PS Malaka: Bukan Saya!

Di dalam gubuk kecil itu terdapat dua kamar yang disekatnya dengan sak semen untuk di dan 7 orang cucunya dapat beristirahat. Tak ada jendela membuat kegelapan selalu meliputi gubuk itu di siang dan malam hari.

Gubuk Reog tempat tinggal Nenek Elisabet

Di dalam rumah itu terdapat dua tungku masak dan beberapa perabotan makan yang berserakan. Maklum, saat itu Nenek Elisabet hanya terbaring lemas di tempat tidurnya karena sakit.

Sebenarnya Nenek Elisabet ingin pergi berobat di Puskesmas Halilulik yang jaraknya tak sampai satu Kilo Meter. Sayang, Nenek Elisabet tak punya sepersen pun di kantongnya.

Baca Juga :  Kabupaten Rote Ndao Diguncang Gempa 5,1 M, Tidak Berpotensi Tsunami

Maklum, Nenek Elisabet bersama sang suami, Yosep Lelo sehari-hari mengumpulkan kayu bakar untuk dijual. Per ikat dihargainya Rp 1.000. Namun, sejak ditinggal sang suami pada Februari 2018 silam, Nenek Elisabet terpaksa harus mengumpulkan kayu bakar sendirian.

“Saya biasa hanya jual 10 ikat saja. Kalau laku semua ya saya bersyukur, tapi kadang hanya dapat Rp 5.000 setiap hari,” tutur nenek yang sudah berusia 80 tahun lebih itu.

Tulisan ini berasal dari redaksi