Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Meneropong Lebih Dekat Model Pengukuran Kemiskinan, Permasalahan, dan Alternatif Kebijakan

BELU, Flobamora-news.com –Kemiskinan sebagai problematika multidimensi karena berkaitan dengan ketidakmampuan akses secara ekonomi, sosial budaya, politik, dan partisipasi dalam masyarakat. Bentuk-bentuk kemiskinan yang ada di Indonesia serta berbagai ragam faktor penyebabnya, tentunya sangat mempengaruhi rumusan kebijakan yang dibuat.

Berbagai kebijakan dan program yang ada dirasakan masih kurang efektif dalam upaya menurunkan jumlah penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan. Hal ini dapat kita amati dan alami bersama, di mana, ada kecenderungan peningkatan jumlah penduduk miskin dari masa ke masa. Karena itulah, kemiskinan menjadi perhatian bersama baik dari kesadaran individu, unsur pemerintah, swasta, maupun dari social society (masyarakat sosial).

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

Masalah kemiskinan memang sama tuanya dengan usia kemanusiaan itu sendiri. Implikasi permasalahannya dapat melibatkan berbagai segi kehidupan manusia.

Dengan kata lain bahwa kemiskinan ini merupakan masalah sosial yang sifatnya mendunia. Artinya, masalah kemiskinan sudah menjadi perhatian dunia. Karena dan masalah tersebut ada di semua negara, walaupun dampak dari kemiskinan berbeda-beda.

Baca Juga :  Sinergi Anggota Satgas Yonif Mekanis 741/GN Dengan Masyarakat

Namun, terkadang kita tidak berpikir bahwa kemiskinan sering tidak disadari kehadirannya sebagai masalah oleh manusia yang bersangkutan. Suatu realitas di mana mereka yang tergolong miskin berpikir bahwa kemiskinan adalah sesuatu yang nyata ada dalam kehidupan mereka sehari-hari karena mereka merasakan hidup dalam kemiskinan. Meskipun demikian, belum tentu mereka sadar akan kemiskinan yang mereka jalani.

Kesadaran akan kemiskinan biasanya dirasakan ketika membandingkan kehidupan yang sedang dijalani dengan kehidupan orang lain yang tergolong mempunyai tingkat kehidupan ekonomi lebih tinggi. Hal ini menyulitkan pemerintah ketika akan menentukan penduduk miskin, karena mereka (penduduk) sendiri tidak sadar akan kemiskinannya.

Selain itu, kemiskinan dapat dilihat sebagai masalah multidimensi karena berkaitan dengan ketidakmampuan akses secara ekonomi, sosial, budaya, politik, dan partisipasi dalam masyarakat.

Kemiskinan memiliki arti yang lebih luas dari sekedar lebih rendahnya tingkat pendapatan atau konsumsi seseorang dari standar kesejahteraan terukur seperti kebutuhan kalori minimum atau garis kemiskinan.

Baca Juga :  Peringati HUT Polri Ke-73 Jasa Raharja Serahkan Bantuan Dana 25 Juta

Akan tetapi, kemiskinan memiliki arti yang lebih dalam karena berkaitan dengan ketidakmampuan untuk mencapai aspek di luar pendapatan (non income factors) seperti akses kebutuhan minimun, kesehatan, pendidikan, air bersih, dan sanitasi.

Kompleksitas kemiskinan tidak hanya berhubungan dengan pengertian dan dimensi saja, namun berkaitan juga dengan metode yang digunakan untuk mengukur garis kemiskinan.

Dari berbagai hal yang diuraikan di atas kemiskinan seharusnya dapat dilihat atau dinilai atau diukur dari berbagai aspek kehidupan.

Mengapa terjadi dan bagaimana cara meneropong kemiskinan lebih dekat terjadi kemiskinan?

Beberapa pendekatan yang memberikan solusi sekaligus metode strategis di antaranya, dapat dibedah dari ukuran kemiskinan, penyebab kemiskinan, ciri kemiskinan, dan kebijakan pengentasan kemiskinan.

Potret Kemiskinan di Perbatasan RI-RDTL

Ukuran Kemiskinan

Kemiskinan memiliki banyak definisi. Dari berbagi defenisi tetsebut, sebagian besar sering mengaitkan konsep kemiskinan dengan aspek ekonomi.

Berbagai upaya untuk mendefinisikan dan mengidentifikasikan kemiskinan sebenarnya menghasilkan suatu konsep pemikiran yang dapat disederhanakan. Pertama, dari sudut pandang pengukuran, kemiskinan dibedakan menjadi dua yaitu kemiskinan absolut dan relatif. Kedua, dari sudut pandang penyebab, kemiskinan dapat dikelompokkan menjadi kemiskinan alamiah dan struktural.

Baca Juga :  Korem 161/Wira Sakti dan Masjid Nurul Wathan Sembelih Hewan Kurban.

Salah satu syarat penting agar suatu kebijakan pengentasan kemiskinan dapat tercapai maka harus ada kejelasan mengenai kriteria tentang siapa atau kelompok masyarakat mana yang masuk ke dalam kategori miskin dan menjadi sasaran program. Selain itu, ada syarat yang juga harus dipenuhi yaitu harus dipahami secara tepat mengenai penyebab kemiskinan itu sendiri di masing-masing komunitas dan daerah/wilayah. Karena penyebab ini tidak lepas dari adanya pengaruh nilai-nilai lokal yang melingkupi kehidupan masyarakatnya. Kemiskinan sering kali ditandai dengan tingginya tingkat pengangguran dan keterbelakangan.

Masyarakat miskin umumnya lemah dalam kemampuan berusaha dan terbatas aksesnya terhadap kegiatan ekonomi sehingga akan tertinggal jauh dari masyarakat lainnya yang mempunyai potensi lebih tinggi.

Ukuran kemiskinan dilihat dari tingkat pendapatan dapat dikelompokkan menjadi kemiskinan absolut dan kemiskinan relatif (Ginandjar,1996).