Mengurai Birokrasi yang Menindas dari Desa Salbait

 

Pola hubungan antara perangkat desa dan masyarakat juga menunjukkan karakter neo-patrimonial (Eisenstadt, 1973). Dalam sistem seperti ini, loyalitas personal dan hubungan kekuasaan lebih dominan dibanding mekanisme profesional. Akibatnya, akuntabilitas publik menjadi kabur. Keputusan sering diambil bukan karena kebutuhan masyarakat, melainkan karena pertimbangan pribadi atau politik lokal.

 

Yang lebih memprihatinkan, kasus ini terjadi di TTS, sebuah daerah yang sudah lama bergulat dengan kemiskinan, kekurangan gizi, serta tingginya kekerasan terhadap perempuan dan anak. Sebagian besar keluarga di pedesaan TTS hidup dalam keterbatasan ekonomi, di mana perempuan menjadi tulang punggung keluarga sekaligus pengasuh anak. Ketika bantuan pangan diselewengkan, dampaknya bukan hanya pada menipisnya sumber makanan, tetapi juga pada meningkatnya kerentanan sosial.

 

Ibu-ibu di pedesaan Timor sering kali harus memilih antara memberi makan anak atau menunda makan sendiri. Ketika janji bantuan berubah menjadi kebohongan, negara secara tidak langsung menambah beban penderitaan mereka. Dalam perspektif teori structural violence Johan Galtung (1969), praktik seperti ini adalah bentuk kekerasan struktural: penderitaan yang dihasilkan oleh sistem sosial yang tidak adil.



Exit mobile version