Beranda Opini Fenomena Akun Palsu dalam Pilkada Belu 2020

Fenomena Akun Palsu dalam Pilkada Belu 2020

265
0

Suhu politik pilkada Kab. Belu kian memanas. Kedua kubu saling adu argumen dan jual program, gagasan, demi merebut simpati masyarakat. Ini hal yang wajar, mengingat tanggal 9 Desember kian dekat.

Menarik untuk kita simak. Tim sukses atau Tim pemenangan, para pendukung, dan simpatisan mulai bergerak dan memainkan peranannya. Mereka sangat antusias. Ibarat pertandingan sepak bola, mereka berusaha menyerang dari berbagai lini. Semua amunisi sudah pasti digunakan demi satu tujuan akhir yakni kemenangan figurnya.

Ide kreatif mulai bermunculan di medsos menambah maraknya perhelatan akbar ini. Salah satu media yang dipandang ampuh, apa lagi dimasa pandemi ini adalah kampaye lewat medsos. Media sosial adalah sarana ampuh untuk memperkenalkan figurnya.

Ada yang berkampanye lewat musik dan nyanyian, ada yang buat konten menarik, ada tik tok, ada grup facebook, grup whatsap, instsgram. Singkatnya medsos menjadi pililahan manjur untuk perkenalkan jagoan mereka. Bahkan belakangan ini, beredar di medsos, dari paket sahabat akan mengadakan lomba tik tok bagi para pendukung setia.

Wajar dan sah-sah saja. Tidak ada yang salah. Selain memperkenalkan paket unggulan, masyarakat juga secara tidak langsung mengkespresikan kreatifitasnya.

Dari sekian banyak kereatifitas yang di tampilkan lewat medsos, ada fenomena menarik yakni penggunaan akun palsu dalam memperkenalkan dan juga membela figur andalannya.

Mengapa orang menggunakan akun palsu? Saya menduga, agar lawan tidak mengetahui siapa jatidirinya yang sebenarnya. Akun palsu memberi peluang bagi yang bersangkutan untuk menyerang pihak lawan. Dengan bersembunyi dibalik akun palsu, ia bisa berbuat apa saja, mengatakan apa saja, termasuk menyerang dan menjatuhkan lawan dengan cara tidak etis sekalipun.

Lewat akun palsu, ia bisa menebar fitnah, menggunakan kata kasar, menyebarkan berita bohong, menyerang pribadi, bahkan mengancam kubu lawan. Akun palsu juga menjadi tempat pengamanan diri. Kelak bila figurnya kalah, ia akan ‘cuci tangan’, dan merasa diri bukan bagian dari paket yang kalah.

Sejatinya, kita mesti tampil elegan. Menampilkan jati diri yang sesungguhnya. Ini penting karena, berkaitan dengan setiap ucapan atau tulisan yang kita keluarkan. Pendukung yang gentelmen, tentu tidak pernah merasa gentar sedikitpun.

Kita harus berkata jujur dan benar. Ini bukan soal kepentingan pribadi dan kelompok, tetapi soal kepentingan bersama dan kemajuan daerah kita. Soal kepentingan bersama. Kata-kata yang kita keluarkan, harus berdasar, beralasan dan dapat dipertanggungjawabkan. Jangan sampai kita menghalalkan segala cara hanya untuk satu tujuan memenangkan figur kita. Akibatnya kita sendiri yang tanggung. Kitalah yang menderita.

Sebenarnya bila kita sadar, kita sendiri juga yang akan terima “getahnya”. Meski kita mengatakan kebenaran, tapi dengan akun palsu, saya kira masyarakat akan sulit menerima dan percaya.

Sebenarnya ada cara ampuh untuk membendung akun palsu dalam kampaye politik yakni jangan tanggapi, setiap pernyataan yang ditulis atau diterbitkan. Lambat laun akan hilang juga.

Untuk pilkada Belu, ada beberapa grup sebagai sarana untuk kampayekan figurnya dengan ribuan pengikut misalnya, Belu Bebas Bicara, Belu News, Kotak Ketik, Belu Memilih 2020. Seandainya admin grup tegas, dan tidak mengijinkan akun palsu bergabung dalam grup, pasti tidak akan ada akun palsu dalam kampanye pilkada Belu 2020. Salam waras.


Penulis: Rm. Kris Fallo,  Pr


Komentar