Bak penampung hanya memiliki volume 50 kubik, sementara kapasitas debit air hasil olahan lebih dari itu, sehingga air hasil olahan yang sedianya ditampung di bak sebelum dipompa menuju bak Reservoar besar yang ada di bukit Malasera banyak yang terbuang percuma.
“Kapasitas bak penampung hanya 50 kubik, sedangkan di saat WTP produksi air banyak yang terbuang, karena bak tidak dapat menampung, hasil pengolahan. Solusinya bangun tambah bak 100 kubik, sehingga bisa menampung lebih banyak air” jelas Deny.
Air hasil olahan WTP setelah tertampung di bak penampung akan dipompa menuju bak Reservoar di Malasera sebelum didistribusikan ke rumah-rumah warga. Selama ini, air dari bak Reservoar dialirkan menghilangkan sistem gravitasi mengandalkan posisi bak yang berada di ketinggian.
Selain penambah fasilitas WTP, mantan Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Nagekeo ini juga menyarankan agar penyaluran ke rumah warga juga harus bisa disiasati menggunakan sistem pompa dorong sehingga debitnya lebih besar.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
