“Lebih dari itu aktraksi (tinju) ini mengajarkan kepada kita bahwa kita adalah makhluk tertinggi ciptaan Tuhan yang punya kemampuan di atas jauh dari primata, kita punya kesadaran untuk segera merajut persaudaraan” tuturnya.
Malam kita lanjutkan dengan Kaijo sebuah ritual lokal dan juga Tandak dari Rendu dipentaskan dalam Festival One Be. Ini panggung di mana leluhur kita menarasikan nasihat-nasihat bijak dalam tatanan hidup bersama, tenggang rasa dengan sesama dan juga merawat alam. Saat ini di mana kita mengalami kelangkaan satwa-satwa liar yang berakibat pada ketidakseimbangan ekosistem alam ini dengan berbagai dampak buruk.
“Ini semua bagian dari pesan Festival yang ingin kita sampaikan dan ini adalah Festival tahun pertama dan diikuti tahun-tahun berikutnya” ungkapnya.
Menurut Don Bosco, target Pemerintah Kabupaten Nagekeo adalah pada tahun ketiga Festival One Be ini sudah dapat dikemas dan dinilai oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sehingga bisa diangkat menjadi even nasional. “Tekad Pemerintah Kabupaten Nagekeo dan masyarakat ingin even One Be pada tahun ke empat sudah bisa menjadi even Nasional” tegas Don Bosco.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
