Beranda Politik Simon Nahak: Sudah Waktunya Kita Menjadi Pemain Bukan Lagi Penonton

Simon Nahak: Sudah Waktunya Kita Menjadi Pemain Bukan Lagi Penonton

49
0

MALAKA, Flobamora-News.com –Pampilannya sederhana, tutur katanya lembut dan Ia sangat perhatian, terutama kepada rakyat kecil. Siap kembali ke daerah kelahirannya, bersama masyarakat berjuang menuju pilkada Malaka 2020.

Sang Doktor anak petani tembakau dan tenun ikat. Dialah Dr. Simon Nahak, SH, MH, dari Kampung Weulun, Kecamatan Wewiku, Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur.

Simon Nahak, begitulah biasa disapa. 30 tahun melanglang buana di Pulau Dewata, Bali, mulai dari menimba ilmu hingga berkarya sebagai akademisi dan praktisi. Berbagai prestasi telah ia raih yang membuat hidupnya mandiri dan sukses.

Kini ia terpanggil untuk mengabdi bagi tanah kelahirannya Kabupaten Malaka. Niat kembali ke Malaka yang diinginkan adalah memperjuangkan kepentingan rakyat yang dimana selama ini sering dikebiri lewat praktek korupsi, kolusi dan nepotisme.

Dalam kesehariannya, Doktor jebolan Universitas Brawijaya Malang ini banyak membantu mahasiswa asal NTT di Bali yang mengalami kesulitan, termasuk memberi beasiswa kepada mereka yang membutuhkan.

Selain sebagai Lawyer, Simon juga menjabat sebagai Ketua Program Studi Magister Hukum, Universitas Warmadewa Bali.

Simon Nahak yang merupakan anak sulung dari 8 bersaudara, buah cinta pasangan bapak Marselinus Taek dan mama Bernadeta Hoar. Ia lahir di Weulun tanggal 13 Juni 1964 dan menamatkan SD di Desa Weoe tahun 1977.

Ia kemudian menamatkan sekolah menengah pertama di SMP St. Fransicus Xaverius Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) pada tahun 1984, dan sempat bersekolah di SMAK Giovanni Kupang selama 6 bulan.

Karena terbentur biaya, Simon Nahak akhirnya dipanggil pulang oleh orang tuanya dan melanjutkan sekolah menengah atas di SMA Sinar Pancasila, Betun, Kabupaten Malaka.

Setelah tamat SMA, pada tahun 1987 Simon Nahak berangkat menuju Bali dan mendaftarkan diri di universitas Warmadewa. Karena kecerdasannya, saat berada di Semester V, ia diangkat menjadi asisten dosen dan berhasil menyelesaikan S1nya pada tahun 1992 dengan predikat Cum Laude.

Dia kemudian mengajar kembali di kampus almamaternya dan bekerja sebagai pengacara. Selama bekerja sebagai lawyer, Simon tak hanya menangani perkara yang menimpa orang Indonesia, tapi juga menangani kasus hukum yang menjerat warga asing di Bali.

Sambil bekerja, Simon Nahak menyelesikan pendidikan magister hukum di Universitas Udayana Bali dan diwisudakan pada tahun 2004. Selepas itu, pada tahun 2010 Simon mengambil gelar doktornya di Universitas Brawijaya Malang dan lulus pada tahun 2014 dengan predikat cum laude untuk yang kedua kalinya.

Kiprahnya di dunia lawyer membuat Simon Nahak makin terkenal dan terpilih menjadi DPP Asosiasi Advokat Indonesia (AAI) Bali – Nusa Tenggara tahun 2010 – 2015, dan Ketua AAI Kota Denpasar tahun 2014-2019. Selama menjabat DPP AAI, Simon juga terpilih menjadi Ketua Dewan Pakar Peradi Kota Denpasar periode 2015 – 2018.

Meski begitu, Simon tak pernah meninggalkan almamaternya. Ia terus mengajar di Universitas Warmadewa hingga sekarang.

Di saat yang sama, Simon terus memberi perhatian bagi kampung halamannya Kabupaten Malaka. Ia memberikan bantuan konsultasi hukum gratis di wilayah keuskupan Atambua bahkan NTT pada umumnya, termasuk memberi konsultasi hukum gratis bagi penghuni LP Penfui Kupang.

Berbekal pengamalannya pula, Simon membantu pembangunan lopo wisata di kawasan Pantai Loodik di Kecamatan Kobalima, Malaka, dan Pantai Hanimasin di Kecamatan Wewiku, perbatasan Malaka – TTS.

Begitu niatnya maju sebagai Bakal Calon Bupati Malaka hanya memiliki satu tujuan, yakni memperjuangkan kepentingan rakyat dan memastikan kepentingan rakyat diperhatikan pemerintah pusat dan daerah.

Banyak orang mengatakan bahwa Kabupaten Malaka yang masih belia ini susah untuk maju karena banyak Tanya, tertinggal, tertindas, terlantar, terbodoh, termiskin. Nah kita sebagai putra daerah yang dilahirkan dan dibesarkan di Malaka, kalau kita tidak kembali berbuat untuk Malaka, siapa lagi, dan kalau bukan sekarang kapan lagi?,” tegasnya.

“Kita tidak bisa terus-terusan menjadi penonton, saya kira sudah waktunya kita ambil bagian. Saya ingin berbuat baik kepada masyarakat, bukan mengamankan kepentingan keluarga,” ucapnya.

Menurut Simon Nahak, masalah hukum adalah masalah krusial di Malaka. “Menjadi aneh ketika (Malaka) kabupaten baru, juga terkorup, sebab banyak tulisan yang dibaca pada media. Kalau tidak terkorup ya gak mungkin termiskin dong,” tegasnya.

Orang Malaka ini pintar, cerdas, dan smart. Tetapi itu semua harus didukung dengan budaya (Hakneter no Haktaek Malu) yang saling menhargai, sarana prasarana pendidikan jika sudah memadai itu perlu berikan kebebasan kepada setiap kepala untuk berkreasi, bukan menindas para guru. Intinya harus transparan dalam mengelola program anggaran.

Karena itu dia terpanggil untuk memperjuangkan itu, dan mengatur, angggaran yang turun betul-betul tepat sasaran dan bermanfaat bukan memperioritaskan program unggulan yang akan menjadi kepentingan untuk golongan elit politik,” katanya.

 


Reporter: RHerry Metak


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here