Ia menambahkan, saat hujan deras air masuk ke ruang kelas sehingga kegiatan belajar mengajar (KBM) terpaksa dipindahkan ke rumah pribadinya. “Kalau hujan besar, kami belajar di rumah saya saja agar anak-anak tidak kehujanan dan buku tidak rusak,” jelasnya.
Maria mengungkapkan bahwa kondisi sekolah sudah pernah disurvei oleh pihak sekolah induk, namun hingga kini belum ada tindak lanjut pembangunan karena terkendala proses administrasi dan pembuatan proposal.
“Kami sudah diminta buat proposal, tapi hingga saat ini masih dalam tahap tunggu,” katanya.
Hasil investigasi lapangan menunjukkan bahwa struktur kayu bangunan terlihat rapuh, atap gewang berlubang di banyak bagian, dan dinding bambu tidak lagi kokoh. Situasi ini tidak hanya menghambat proses pembelajaran, tetapi juga membahayakan keselamatan siswa dan guru.
“Kami hanya ingin ruang kelas yang aman dan layak. Anak-anak di sini juga berhak mendapatkan pendidikan yang sama seperti anak-anak di kota,” harap Maria.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
