Kejujuran Tidak Mungkin Hianati Karir

FlobamoraNews

MALAKA, Flobamora-news.com –Namanya Herminus Seran, Lahir di Nunfutu, Desa Wekeke, Kecamatan Rinhat, Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur, pada 17 Juli 1986. ia adalah anak kedua dari lima bersaudara, buah hati dari pasangan Arnoldus Timu, (Almahrum) dan Orilia Seuk (Almahrumah).

Herry sapaan akrabnya, ia terlahir di keluarga yang sangat sederhana. Ayahnya almarhum merupakan seorang petani, sedangkan Ibunya bekerja sebagai ibu rumah tangga. Sejak kecil dia selalu dinasehati oleh ayahnya untuk selalu rajin belajar, jujur dan baik terhadap sesama.

Ketika berumur 7 tahun, ia memulai pendidikan di SDI Nunfutu, kemudian setelah lulus pada tahun (1990), dia melanjutkan pendidikannya di SMP Negeri Mamsena Kabupaten TTU. Selepas lulus dari SMP di tahun (1993), ia melanjutkan pendidikannya di SMA Negeri 1 Kefamenanu dan tamat (1996), Kemudian melanjutkan pendidikan di Akademi Indonesia (AKOPIN) Ratu Jelita Kupang dan mendapatkan gelar Diploma Tiga (D3) tahun (2002). Oleh karena berprestasi ia dikukuhkan menjadi lulusan terbaik dengan IPK pujian.

Baca Juga :  Lurah Maulafa Pimpin Ketua RT dan Warga Bersihkan Sampah

Ketika lulus Diploma Tiga, dia berniat melanjutkan pendidikan mengambil Strata satu (S1), namun karena keadaan ekonomi keluarga yang terbatas dirinya tidak dapat melanjutkan pendidikan.

Herminus Seran, A.Md, kemudian memutuskan untuk menjadi petani yang produtif. Ia ingin mengubah pola pikir masyarakat bahwa hanya dengan sumber daya manusia yang mapan, orang bisa mengelolah sumber daya alam yang tersedia dengan lebih modern.

Menjadi petani modern tidak akan mempersulit petani dalam hal membersihkan maupun menanam benih secara efektif dan efesien. Hal itu ia membuktikan dengan mengelolah kebunnya dengan luas sekitar setengah hektare, dengan cara membersihkan yang berbeda. Ia mulai memperkenalkan cara sederhana yang pernah ia lihat seperti menyemprotkan obat beracun diatas permukaan tanah yang berumput, dan mempraktikkan cara menanam berbaris. Lima tahun ia bertani, menjadi contoh dan motivasi bagi masyarakat untuk harus mampu mendorong anaknya melanjutkan pendidikan ke Perguruan tinggi.

Tulisan ini berasal dari redaksi