Yunita bercerita bahwa ia datang dari grup Nusantara bersama Pak Roy Babis. “Beta pu bapa sonde ikut, karna beta pu rumah di Oekefan. Beta tinggal dengan beta pu bapa sa, mama su sonde ada lai,” ungkapnya dengan nada pilu, menyentuh hati siapapun yang mendengarnya.
Di balik seragam Tenis Mejanya, Yunita Baifeto, seorang siswi kelas lima dari SD Oebesa, menyimpan cerita yang lebih dalam. Sambil menunduk dan terus menangis, ia menceritakan pengalamannya mengikuti kejuaraan ini. Kalah memang menyakitkan, namun semangat juangnya patut diacungi jempol.
Kejuaraan ini menjadi ajang baginya untuk menunjukkan bakat terpendam di cabang olahraga tenis meja, sebuah pelarian dari kerasnya kehidupan.
Lebih dari sekadar kejuaraan, ajang ini menjadi wadah bagi para atlet muda untuk mengasah kemampuan dan menunjukkan potensi mereka. Kisah Yunita hanyalah satu dari sekian banyak cerita inspiratif yang lahir dari GOR Neksmese Soe.
Salah seorang orang tua peserta yang hadir juga menyampaikan harapannya agar kegiatan serupa dapat terus diadakan. “Dengan adanya kegiatan-kegiatan seperti ini, anak-anak kami bisa ikut lomba,” ujarnya dengan penuh harap. “Apalagi kami hanya petani biasa. Kalau kami tidak mampu menyekolahkan anak-anak sampai sarjana, dengan kegiatan begini, anak-anak kami dapat prestasi dan bisa membanggakan kami sebagai orang tua.”
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
