Ibu Yawan hanyalah seorang petani yang setiap hari keluar ke ladang untuk mencari nafkah. Namun, meskipun sibuk dengan pekerjaannya di ladang, ia selalu menyisakan waktu di pagi hari untuk membuat kue untuk Yawan bawa ke sekolah. “Di sela-sela keseharian ibu, ibu juga buat kue untuk saya bisa bawa ke sekolah setiap pagi,” ujar Yawan. Setiap hari, mereka menggunakan modal Rp100 ribu untuk membuat 100 potong kue beragam rasa yang disukai teman-teman sekolah. Jika semua kue terjual, Yawan biasanya memperoleh keuntungan setengah dari modalnya, yaitu sekitar Rp 50 ribu.
Namun, bagi Yawan, jumlah untung bukanlah hal yang paling penting. “Kadang kue 100 potong itu kadang habis, kadang juga tidak habis. Tapi tak apa-apa, biar sedikit, yang penting bisa membantu kebutuhan saya sehari-hari,” katanya. Yang lebih berharga baginya adalah ia tidak lagi harus menundukkan kepala atau menundukkan tangan kepada orang tua untuk meminta uang. Setiap rupiah yang ia hasilkan dari berjualan kue digunakan untuk membayar SPP, beli buku, dan kebutuhan sehari-hari lainnya—sehingga ibunya bisa lebih lega dan uang yang diterima dari kakaknya bisa disimpan untuk kebutuhan keluarga yang lebih mendesak.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
