Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Religi  

TUHAN Ada dI Mana-Mana, Kan?

Avatar photo
Editor: Redaksi
IMG 20220418 WA0027

Oleh : Kristoforus Juliano Ilham (Frater Novis Montfortan Ruteng)

RUTENG, Flobamora-news.com – Kita mungkin akan selalu dan pasti tertarik dengan puisi. Terlepas dari bervariasinya tema puisi, kita sulit menafikan betapa puisi telah mampu mengendalikan emosi, pikiran dan perasaan kita. Rangkaian kata demi kata, bukan hanya menuntut kita untuk menginterpretasikan sebuah makna, tetapi menyediakan bagi kita kesempatan menghayati sebuah puisi. Karena itu, adalah baik menyebut puisi sebagai ruang refleksi dan kontemplasi hidup kita. Puisi sebagai ruang refleksi dan kontemplasi berorientasi pada kristalisasi perspektif menyikapi fenomena, peristiwa, dan/atau situasi di sekitar kita.

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

Reinard L. Meo (Er El Em) dalam puisi berjudul Paskah 2015 mengangkat peristiwa paskah sebagai momen refleksi dan kontemplasi bagi kita semua. Pada awal membaca puisi ini, saya terkesan dengan kepiawaian Reinard mengkompantibelkan misteri paskah dengan objek kehidupan sehari-hari yang dekat dengan aktivitas manusia seperti memindahkan jemuran. Bagi saya, religiositas sastra yang ditampilkan Reinard dalam puisi ini hendak mengkonsolidasi kedekatan sastra dengan eksistensi manusia sebagai homo religius. Sastra berarti mengenal dan mengkontemplasikan religiositas, dan bahwa religiositas disadari dari (realita) dan untuk kita melalui sastra.
TUHAN DI MANA-MANA
Paskah 2015
-Sibuk mencari
“Tuhan, mengapa Kau bangkit?”
Lalu Tuhan menjawab tanyaku dengan kilat lagi guntur
Hari diliputi hujan
Penyesalan pun bertunas dalam hati
Jemuran belum sempat dipindahkan
05 April 2015