Saya mengawali tubuh tulisan ini dengan menyodorkan salah satu kecenderungan naluriah manusia, yakni mencari. Ketika manusia menyadari pada dirinya terdapat ihwal keterbatasan atau kekurangan, insting kemanusian mendorongnya untuk mencari. Hal yang dicari bermacam-macam: keadilan, kebenaran, kebebasan, kekuasaan, pencerahan, kekudusan dan apapun itu. Namun dalam konteks ini, sasaran pencarian adalah Tuhan sendiri. Si aku lirik ingin mencari Tuhan.
Kita mengandaikan bahwa Tuhan yang dicari dianggap tidak pernah diketahui, entah karena kurang disadari atau proses pencarian yang belum optimal. Kemudian dalam aras keterbatasan, kekurangan dan ketidaktahuan yang dimiliki, si aku lirik mengalamatkan pertanyaan langsung kepada Tuhan. Hemat saya, memahami secara positif alur pertanyaan ini, si aku lirik hendak menunjukan kepada kita (red:pembaca) untuk perlu menelisik wujud keberimanan kita. Iman bukan sekadar dihayati secara rigid-tekstual, tetapi perlu direfleksikan dari sudut pandang akal budi.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
