Beranda Wisata Budaya Army Konay: Tangga Seribu Wisata Budaya Bubneo Aset Berharga Desa Tune, Harus...

Army Konay: Tangga Seribu Wisata Budaya Bubneo Aset Berharga Desa Tune, Harus Jaga dan Rawat Dengan Baik

829
0

Foto: Wakil Bupati TTS Jhony Army Konay S.H.

SOE, Flobamora-news.com – Buapti Egusem Pieter Tahun,  S.T. M.M.dan Wakil Bupati Johny Army Konay S.H.  meresmikan Tangga Seribu wisata budaya Bubneo, pembagian Dana BLT, peletakan batu pertama kantor desa Tune, peresmian jembatan gantung eno tune, inseminasi buatan ternak sapi dan penanaman bibit jagung. Kegiatan tersebut berlangsung di Desa Tune Kecamatan Tobu Kabupaten Timor Tengah Selatan Provinsi Nusa Tenggara Timur pada, Selasa (28/7/2020).

Menyangkut tangga seribu wisata budaya Bubneo yang ada di desa Tune kecamatan Tobu, maka wakil bupati TTS, Jhony Army Konay, SH. kepada media ini bahwa, Camat Tobu dan kepala Desa Tune harus memelihara dan mengembangkan tempat wisata tangga Seribu sebagai salah satu potensi wisata yang bisa diandalkan oleh Pemerintah Desa kedepan.

“Lewat obyek wisata ini Pemerintah Desa dapat memberdayakan Bumdes. disamping itu mungkin join, atau kerja sama dengan Dinas Parawisa sehingga ada asupan-asupan pendukung parawisata”, kata Army.

Lanjut Army, jika Tangga seribu wisata budaya Bubneo yang ada di Desa Tune dapat dikelola dengan baik, maka pendapatan atau penghasilan dari tangga seribu wisata budaya bubneo, sebagian masuk ke KAS desa, untuk pemberdayaan masyarakat yang ada di desa Tune. Tenaga yang dipekerjakan di tempat wisata tangga seribu adalah masyarakat yang ada di desa Tune, sehingga dengan cara tersebut dapat menciptakan lapangan kerja di dalam desa, sehnigga dengan sendirinya bisa mengurangi angka pengangguran di dalam desa”, ujar Army

Lebih lanjut kata Army, Pemerintah Desa harus segera membuat Perdes yang memuat tentang pungutan di tempat wisata Tangga Seribu, agar ketika ada pungutan retribusi, maka tidak terkesan pungutan liar atau Pungli. Lalu di tempat wisata tersebut harus ada Home stay atau tempat penginapan, serta harus ditata lebih bagus lagi agar dilirik oleh para wisatawan.

Ketika ditanya tentang keterlibatan pihak ketiga atau pihak swasta dalam pengelolaan tangga seribu wisata budaya bubneo, Army mengatakan bahwa, jika ada keterlibatan pihak swasta dalam pengelolaan wisata Tangga Seribu maka itu jauh lebih bagus, namun semuanya itu tergantung dari desa tersebut, apakah mau atau tidak.

Sementara itu Kepala Desa Tune, Yunglens Mamo kepada media ini bahwa, mengenai tangga seribu wisata budaya Bubneo ada sejarahnya.

“Jaman dahulu tempat tersebut sebagai tempat tinggal para leluhur, sehingga dijadikan sebagai situs budaya yang perlu dilestarikan oleh generasi sekarang. Leluhur yang tinggal di wilayah wisata tangga seribu adalah marga Tanu, marga Klaenoni dan marga Boko, yang mana batu tersebut adalah Faut kanaf (batu marga) dari tiga marga tersebut”, jelas Yungles.

“Selain melestarikan situs budaya yang ada di desa Tune, maka saya selaku kepala desa berniat untuk menciptakan lapangan kerja buat masyarakat desa Tune, sehingga dapat mengurangi angka pengangguran, serta membatasi warga masyarakat desa Tune yang bekerja di luar negeri, jadi memberdayakan anak-anak yang ada di desa sehingga tidak kehilangan lapangan kerja”, katanya.

“Dari pada anak-anak pergi merantau dan pulang jadi mayat, lebih baik kerja di desa sekali pun gajinya kecil”
Kata kades

Dalam waktu dekat akan dibangun pos retribusi di wisata budaya tangga seribu bubneo, sehingga menambah pendapatan desa. Kedepan tangga seribu wisata budaya bubneo, akan ditata lebih bagus lagi, dan kami akan membuat spot foto, lopo tempat bertedu, dan kantin, sehingga betul-betul menarik perhatian dari para wisatawan lokal maupun wistawan manca negara.

“Kami tidak injinkan pihak swasta untuk kelola tempat wisata tersebut, kami akan kelola sendiri, sehigga penghasilannya masuk ke pendapatan desa demi kesejahteraan masyarakat Desa Tune. Obyek Wisata Bubneo di kerjakan menggunakan anggaran dana desa”  tutup Yunglens.


Reporter: Yor T


Komentar