Beranda Nasional Catatan Kecil dari Reruntuhan Peradaban Orang Kamanasa

Catatan Kecil dari Reruntuhan Peradaban Orang Kamanasa

715
0

Malaka, Flobamora-news.com – “Peradaban tidak hadir begitu saja tanpa perjuangan dan kerja keras sang pewaris peradaban”. Alasan inilah yang membuat dua orang anak muda terpanggil untuk coba mengumpulkan kembali puing-puing peradaban yang mulai runtuh tergerus modernisme, lalu mem-buku-kannya.

Mereka adalah Graciana Amanda Bele dan Marselus Mali Leto. Setelah bergulat setengah tahun lebih dalam diskusi dan pengumpulan data, Gres dan Marsel, begitu biasa mereka disapa, mulai menuliskan semua bahan yang sudah mereka kumpulkan.

Tentunya tak sendiri. Mereka mendapat apresiasi dan dukungan dari masyarakat adat dan Pemerintah Desa Kamanasa, Kecamatan Malaka Tengah, Kabupaten Malaka. Buku “Ritual Budaya Tebe Bei Mau Sali – Bei Bui Sali Liurai Kamanasa” pun akhirnya berhasil diterbitkan dengan edisi limit 200 eksemplar.

Dalam buku ini dituliskan sebuah keterpaduan antara pandangan teologis dengan budaya orang Kamanasa. Beberapa dasar biblis coba disandingkan dengan adat budaya Orang Kamanasa. Ada sebuah kemiripan yang mau menyatakan bahwa orang Kamanasa sudah menyembah Tuhan jauh sebelum Agama Katolik masuk ke Indonesia.

Buku ini juga mengulas tentang sebuah kemenarikan dari Budaya Liurai Kamanasa, khususnya saat mulai memasuki musim tanam jagung hingga saat memanen jagung. Mereka mengungkapkan ucapan syukur kepada Tuhan yang telah memberi kesuburan dengan tata cara kebiasaan adat orang Kamanasa. Mulai dari pertemuan untuk menentukan waktu tanam bersama hingga saat selesai memanen jagung atau yang mereka sebut dengan istilah Hamis Batar.

Bicara soal peradaban budaya orang Kamanasa tak lepas dari sebuah peradaban yang diturunkan secara lisan. Karena itu, tak heran bila dalam meramu upacara adat mulai dari pertemuan awal untuk menentukan waktu tanam serentak hingga upacara Hamis Batar, ada banyak hal yang hilang atau terlupakan. Karena itu, buku ini juga menjadi sebuah buku referensi panduan bagi para pewaris budaya Liurai Kamanasa dalam melakukan upacara panen.

Perang Jagung, sebuah tradisi Liurai Kamanasa yang sudah mulai ditinggalkan

Ada pula sebuah tarian yang diangkat khusus dalam buku tersebut adalah “Tebe Bei Mau Sali – Bei Bui Sali”. “Tebe Bei Mau Sali – Bei Bui Sali” adalah sebuah tarian syukur kepada Tuhan yang telah memberikan hidup kepada manusia. Untuk diketahui, Bei Mau Sali – Bei Bui Sali adalah nama yang disematkan kepada pasangan pertama yang hidup di Dunia atau dalam Agama Katolik disebut Adam dan Hawa.

Selain “Tebe Bei Mau Sali – Bei Bui Sali”, ada satu upacara yang menarik untuk diikuti yaitu “Perang Jagung”. Dikatakan, pada zaman dahulu, setelah mengarak hasil panen, orang Kamanasa saling memamerkan hasil panenannya. Namun, seiring perkembangan zaman, acara ini mulai berubah menjadi saling melempar jagung atau Soe Batar. Sebenarnya bahan persembahan tidak boleh dipakai untuk saling melempar. Akan tetapi, karena kegembiraan yang berlebihan hingga akhirnya hal ini dilakukan.

Acara saling melempar jagung ini berlangsung khimad. Namun, saling balas lemparan itu mengubah suasana yang semula khimad menjadi ricuh. Bahkan terkadang tak hanya jagung yang dilempar, tapi juga kerikil dan batu menjadi amunisi untuk saling melempar. Lebam dan luka pada tubuh pun tak dapat dihindari. Luka-luka itu hanya dapat diobati oleh sang ketua suku. Maka tak heran bila warga lokal menyebut upacara ini sebagai perang jagung antar suku.

Pemandangan perang jagung ini dapat menggambarkan bahwa dulunya nenek moyang saling bertikai. Akan tetapi mereka dapat berdamai berkat jasa Bei Mau Sali dan Bei Bui Sali.

Selain upacara Hamis Batar, buku ini juga memberikan banyak ilmu bagi para pegiat Budaya dan kalangan umum. Salah satu contoh adalah beberapa simbol untuk memaknai rumah adat Liurai Kamanasa. Karena itu, buku yang ditulis oleh dua orang anak muda ini menjadi sebuah referensi yang menarik untuk dibaca baik sebagai sebuah pelajaran budaya di sekolah-sekolah dan juga sebagai pengetahuan bagi khalayak umum.


Reporter: Ricky Anyan


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here