Beranda Nasional Festival Fohorai, Sebuah Panggilan Peradaban  

Festival Fohorai, Sebuah Panggilan Peradaban  

9
0

Belu, Flobamoranews.com – Pelaksanaan sebuah festival berbasis ekosistem merupakan amanah kultur dan sebuah panggilan peradaban. Lewat kegiatan kebudayaan itu, tradisi yang telah dan sempat ada kembali ditampilkan dalam sebuah kemasan baru.

Menjadi keharusan suatu Ekosistem budaya kembali mengumandangkan kekayaan peradaban yang telah teruji dalam perjalanan waktu yang panjang. Tanpa ekosistem budaya masyarakat adat, sebuah tradisi tidak akan mungkin terangkai dalam satu alur sejarah hidup yang panjang demikian.

Festival Fohorai yang mengemas keterjaringan rangkaian ekosistem ini, tentu harus menempuh sebuah proses produksi yang kompleks. Dalam kompleksitas demikian, kembali digarisbawahi bahwa kewenangan dan otoritas tertinggi dari simpul-simpul kekayaan budaya ada dalam rangkai ekosistem budaya setempat, yang tentunya meliputi budaya material dan budaya non-material, yang sudah ada.

Nama FOHORAI menggambarkan entitas jati diri dan identitas kultur masyarakat Belu, Perbatasan RI-RDTL yang selalu terikat dengan tradisi menghargai leluhur dalam semua aspek dan unsur budaya yang dihidupinya.

Festival yang berlangsung sejak tanggal 8-13 November 2019 ini lahir dari sebuah kepekaan, gotong-royong, partisipasi dan inisiatif kultur masyarakat adat pemilik ekosistem budaya. Topik yang diangkat pada event budaya 2019 ini adalah “Belu Panggil Pulang: Mai Ita Fila Ba Uma”.

Festival ini kembali membangkitkan kesadaran baru dan rasa cinta masyarakat Belu pada kekayaan budaya yang sedang dihidupinya. Ema (orang) Belu diharapkan dapat menemukan spirit kultur dan peradaban dengan setiap kali berkiblat kepada akar kehidupan atau rumah peradaban dari mana ia berasal. Orang Belu kembali disadarkan akan arti pentingnya kekayaan tradisi sebagai identitas dan kebanggaan kultur leluhurnya sebagai tatanan nilai kehidupan yang sampai kapan pun tidak boleh tergerus oleh arus perubahan.

Kedua Ekosistem adat yang menjadi fokus eksplorasi rangkaian festival Fohorai 2019 adalah Kampung adat Uma Metan Manuaman Lidak Tukuneno-Berkase dan Kampung Adat Sadi. Dengan menggambil dua Kampung adat ini, Festival Fohorai 2019 berupaya membidik kesadaran dan rasa bangga akan foho no rai ema (Ketinggian/gunung/bukit dan dataran) Belu. Bahwa tradisi yang dimiliki selalu ada dalam perspektif jejak berkat, bukan sebuah keterlemparan nasib yang terpaksa harus dihidupi.

Safari eksplorasi ini mengemas rangkaian festival ini dalam dua segmen, yakni segmen utama dan segmen pendukung. Segmen utama meliputi Pagelaran Kekayaan “Tebe Bot dan Ai Tahan Timur” di Uma Metan Lidak Tukuneno Berkase; Upacara Ritual “Ha’a Luha” sebagai tradisi khas ekosistem ada di Kampung adat Sadi.

Sedangkan, segmen pendukung mencakup semua acara pendukung lain yang turut menyemarakkan pesta ekosistem budaya masyarakat adat setempat. Segmen penyemarak ini meliputi atraksi seni budaya, permainan tradisional, pertunjukan tenun ikat, pameran tradisional hasil karya masyarakat lokal, pameran kuliner tradisional, Tarian Likurai dan interpretasinya, Jelajah Gunung Lidak, Konser Musik tradisi, Bazar, Pameran Foto, Pameran dan Studi Tenun, Jelajah Rumah Adat, dan lain sebagainya. Semuanya dirangkai sebagai satu kesatuan ekosistem yang ada dan secara riil dihidupi oleh masyarakat adat ekosistem 2 kampung ada dimaksud.

Dalam bingkai Gotong Royong, FOHORAI FESTIVAL mendapat dukungan yang serius dari komunitas masyarakat adat pada kedua kampung adat ini. Sebagaimana tahun 2018, kembali Pemerintah Belu dan komunitas local yang ada di Kabupaten Belu menyambut baik penyelengaraan festival ini sebagai wujud kepercayaan diri masyarakat adat akan kekayaan tradisi yang pantas dilestarikan dan dikembangkan.


Reporter: Ricky Anyan


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here