Beranda Wisata Budaya Kadispar NTT: di NTT Sekitar 40 % Destinasi Adalah Destinasi Budaya Adat

Kadispar NTT: di NTT Sekitar 40 % Destinasi Adalah Destinasi Budaya Adat

410
0

KUPANG, Flobamora-news.com – Kepala Dinas (Kadis) Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT, Wayan Dharmawa, Selasa (26/6/2019) menegaskan bahwa destinasi budaya yang ada di Provinsi Nusa Tenggara Timur harus disakralkan. Hal tersebut mengingat dari 1181 destinasi yang ada di Nusa Tenggara Timur, sekitar 40 persen destinasi adalah destinasi budaya. Selain itu, destinasi budaya merupakan salah satu kekuatan besar pariwisata Nusa Tenggara Timur yang resistansinya berhubungan erat dengan perkembangan masyarakat.

Menurut Wayan, Destinasi budaya harus kita sakralkan. Kalau kita tidak bisa menjaga ini (destinasi budaya), maka ini bisa hilang. Rumah adat, kampung adat, bisa hilang kalau tidak dijaga. Mengelola destinasi budaya, seperti kampung adat dan rumah adat membutuhkan dana yang tidak sedikit, sementara disatu pihak gerusan modernisasi tidak dapat terhindarkan. Sehingga, pekerjaan terberat ke depan ialah bagaimana membangun kampung adat ataupun rumah adat untuk tetap eksis dan tetap berjalan sesuai dengan perkembangan zaman.

Ditambahkannya, ke depan, destinasi budaya seperti kampung adat akan dibagi dalam 3 area. Area pertama yang merupakan pintu masuk akan menjadi area di mana ada persinggungan antara modernisasi dengan kampung adat. Di area ini akan ada transaksi, ekonomi kreatif dan sebagainya.
Area kedua, merupakan area transisi. Di area ini, wisatawan yang datang ke destinasi budaya tersebut akan berganti pakaian dan atribut, sehingga wisatawan tersebut akan mengenakan pakaian adat yang sesuai dengan destinasi budaya yang dikunjungi. Sementara area ketiga ialah area inti, di mana ada kampung adat, rumah adat, dan sebagainya.

“Kawasan kedua adalah area transisi. Di sini para pengujung wajib mengganti pakaiannya, wajib mengenakan pakaian adat, sehingga begitu masuk ke destinasi wisata utama, wisatawan akan mendapatkan suasana adat. Tidak seperti sekarang, dia (wisatawan, red) masuk ke kampung adat tetapi dia pakai celana pendek”. Kata wayan

Revitalisasi destinasi budaya perlu dilakukan, sebab gerusan modernisasi terasa hingga ke kampung-kampung adat. “Contohnya di kawasan Wae Rebo sudah ada 1 rumah yang beratap seng. Selain itu, di kawasan itu juga sudah ada kuburan yang sudah memakai keramik. Ini yang harus kita revitalisasi ke depan sehingga feel adatnya kita dapat”. tutur Wayan.

Terkait pariwisata Nusa Tenggara Timur, sekurang-kurangnya ada 4 aspek yang akan dilakukan pembenahan oleh pihaknya, yakni aspek destinasi wisata, aspek pemasaran, aspek pengembangan, dan juga aspek industri pariwisata.

Dalam tahun ini, ditargetkan sekitar 30 destinasi wisata di NTT akan dibenahi, termasuk destinasi wisata Pantai Lasiana dan Gua Monyet.

Untuk Pantai Lasiana, pihaknya telah melakukan beberapa langkah pembenahan, antara lain dengan melakukan konsolidasi internal dan dengan swadaya, pihaknya mulai memperbaiki lopo-lopo yang ada di pantai tersebut.

“Saya bersurat ke mana-mana meminta dukungan CSR dan sekarang di sana sudah ada wifi, ada dukungan juga dari berbagai pihak termasuk perbaikan untuk tempat sholat dan sebagainya. Langkah yang diambil saat ini merupakan langkah darurat mengingat kebutuhan akan pembenahan Pantai Lasiana merupakan kebutuhan yang cukup mendesak”. Tegas Wayan

“Ini namanya dadurat sehingga belum optimal. Optimalnya tentu setelah ada perencanaan dan penganggaran, tetapi kita juga bersyukur dengan perbaikan yang kita lakukan. Saya pikir saat ini sudah ada perubahan tetapi tentu belum professional, karena saat ini permasalahannya begitu besar, tetapi suntikan (dana) belum ada,” lanjutnya.

Wayan menambahkan bahwa untuk destinasi wisata Gua Monyet, pembenahannya sedang dikerjakan, sementara yang lain, pembenahan akan dilakukan, tetapi perencanaan harus disiapkan terlebih dahulu.
Kita berharap agar awal Juli nanti 7 destinasi harus sudah dibenahi”. Ujarnya (MD)

Komentar