SOE, FLOBAMORA-NEWS.COM – Peringatan Air Berubah Menjadi Anggur (ABA) 2026 resmi dibuka di Gedung Ibadah Jemaat GMIT Maranatha SoE, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Kamis (24/9/2026).
Kegiatan yang digelar Majelis Sinode GMIT bersama Majelis Klasis SoE ini berlangsung selama tiga hari, 24–26 September 2026. Pembukaan dihadiri Wakil Sekretaris Sinode GMIT, Pdt. Zimrat Karmany, M.Th., pengurus Sinode GMIT, Majelis Klasis Harian se-Teritori TTS, UPP, pengurus Persekutuan Doa, warga jemaat, serta unsur Pemkab TTS, Polres TTS dan Kodim 1621/TTS.
Pembukaan ditandai dengan pemukulan gong dan penyematan kartu peserta.
Dalam suara gembalanya, Pdt. Zimrat mengingatkan jemaat agar peringatan ABA tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi menjadi momentum untuk menghidupi firman Tuhan.
“Khotbah mesti menjadi yang utama dalam peribadatan. Orang boleh pulang dan lupa suara gembala, tetapi khotbah tidak boleh lupa, karena itu yang menjadi spirit dalam kehidupan,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, air dapat dimaknai sebagai sumber kehidupan, sedangkan anggur sebagai simbol sukacita. Karena itu, peristiwa air menjadi anggur menjadi refleksi tentang pembaruan kehidupan.
“Kalau air bisa berubah menjadi anggur, kita semua pulang harus jadi anggur. Sumber sukacita itu harus diperbaharui dalam kehidupan,” ujarnya.
Pesan tersebut sejalan dengan tema ABA 2026, “Anggur Kristus yang Memperbaharui Kehidupan.”
Pdt. Zimrat juga mengajak jemaat belajar dari para pelayan dalam kisah perkawinan di Kana. Menurutnya, para pelayan yang berada di belakang justru menjadi orang pertama yang mengetahui persediaan anggur mulai habis.
“Mereka bukan orang yang tampil di depan. Mereka orang yang di belakang, orang yang biasa-biasa saja. Tapi orang yang biasa-biasa itulah yang paling pertama tahu soal kehabisan anggur,” tuturnya.
Ia menekankan pentingnya ketaatan, kebersamaan, dan kesatuan dalam pelayanan gereja. Majelis Jemaat dan Persekutuan Doa, katanya, merupakan bagian dari satu tubuh Kristus yang saling melengkapi.
Peringatan ABA berkaitan dengan kisah iman yang diwariskan dalam kehidupan Jemaat GMIT Maranatha SoE dan disebut terjadi pada 1965.
Sejumlah anggota Persekutuan Doa disebut mengambil air dari sebuah sumur di Kampung Aman, kemudian membawanya ke tempat berlangsungnya persekutuan doa dan mendoakannya selama tiga hari tiga malam.
Air tersebut kemudian dibawa ke Gereja GMIT Maranatha SoE untuk pelayanan Sakramen Perjamuan Kudus. Dalam kisah yang diwariskan jemaat, air tersebut kemudian disebut berubah menjadi anggur.
Kisah itu terus dikenang dan menjadi bagian dari Peringatan ABA setiap tahun. Sisa anggur dari peristiwa tersebut juga disebut masih tersimpan di rumah Simon Neolaka.
Mengacu pada kisah dalam Injil Yohanes tentang mukjizat di Kana, Pdt. Zimrat berharap tiga hari Peringatan ABA 2026 menjadi momentum pembaruan iman dan pelayanan.
“Mudah-mudahan pada hari ketiga, tanggal 26, mukjizat itu terjadi dalam persekutuan dalam peringatan Air Berubah Menjadi Anggur,” katanya.
Ia kemudian mengajak seluruh peserta menjalani peringatan dengan ketaatan kepada Kristus.
“Biarlah kita belajar untuk taat sebagaimana pelayan-pelayan Tuhan taat akan perintah yang disampaikan Yesus kepada mereka. Di situlah mukjizat itu akan terjadi di dalam seluruh kehidupan,” ujarnya.
Pdt. Zimrat selanjutnya secara resmi membuka Peringatan ABA 2026 atas nama Majelis Sinode GMIT.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












