SOE–flobamora.news.com, 20 Oktober 2026, Anggota DPRD Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) dari Komisi II, Habel Hotty, menegaskan bahwa upaya menghidupkan kembali dan mengembangkan destinasi wisata Air Terjun Oehala membutuhkan kajian menyeluruh serta sinergi semua pihak, terutama Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait.
Menurut Habel Hotty, kritik dan masukan masyarakat merupakan bagian penting dari fungsi pengawasan publik sekaligus menjadi bahan evaluasi untuk menemukan solusi terbaik bagi pengelolaan dan pengembangan destinasi wisata kebanggaan masyarakat TTS tersebut.
“Semakin banyak masyarakat memberikan kritik yang disertai solusi, semakin kita bersyukur. Itulah fungsi pengawasan masyarakat. Kritik yang membangun harus menjadi bahan evaluasi agar kita dapat memperbaiki kekurangan dan mencari solusi bersama,” ujarnya.
Habel menekankan bahwa pengembangan Oehala tidak bisa hanya dibebankan kepada Dinas Pariwisata. Diperlukan kolaborasi lintas OPD, mulai dari sektor pariwisata, pekerjaan umum dan penataan ruang, perumahan dan kawasan permukiman, hingga perdagangan, perindustrian, koperasi, pertanian, peternakan, serta unsur terkait lainnya sesuai dengan tugas dan kewenangan masing-masing.
Kolaborasi tersebut diperlukan karena pengembangan destinasi wisata tidak hanya menyangkut promosi dan kunjungan wisatawan, tetapi juga membutuhkan dukungan infrastruktur, penataan kawasan, fasilitas pendukung, kebersihan, kenyamanan, keamanan, serta pengelolaan destinasi yang profesional dan berkelanjutan.
Selain pembenahan infrastruktur dan kawasan wisata, Habel juga menyoroti pentingnya mengintegrasikan potensi ekonomi masyarakat sekitar ke dalam pengembangan pariwisata Oehala. Potensi tersebut antara lain sektor pertanian yang dapat dikembangkan melalui konsep agrowisata, kelompok tenun sebagai bagian dari daya tarik budaya dan ekonomi kreatif, serta sektor koperasi, perdagangan, dan industri yang dapat mendukung pemasaran produk lokal.
Demikian pula sektor peternakan yang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai bagian dari daya tarik edukasi dan pengenalan kehidupan masyarakat lokal, sesuai dengan karakteristik dan kelayakan kawasan. Keberadaan lopo atau bangunan tradisional juga dapat dioptimalkan sebagai ruang budaya, tempat beristirahat, serta sarana untuk memperkenalkan identitas lokal kepada wisatawan.
“Oehala adalah aset daerah dan memiliki potensi besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat. Karena itu, kita tidak boleh berjalan sendiri-sendiri atau mengandalkan satu dinas saja. Semua OPD yang memiliki keterkaitan harus duduk bersama, melihat apa yang menjadi kebutuhan, lalu menyusun langkah konkret sesuai tugas masing-masing. Kita perlu membangun pariwisata yang terintegrasi dengan pertanian, tenun, budaya, perdagangan, koperasi, dan peternakan agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” jelasnya.
Ia menambahkan, pengembangan Oehala harus diarahkan pada konsep pariwisata yang memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat setempat. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga terlibat aktif sebagai pelaku usaha, penyedia produk lokal, pengelola jasa wisata, dan penjaga kelestarian lingkungan.
Menurutnya, sinergi lintas OPD perlu diwujudkan melalui perencanaan yang terarah, pembagian peran yang jelas, serta program kerja yang saling mendukung. Pembangunan infrastruktur harus berjalan seiring dengan penataan kawasan, penguatan kelembagaan pengelola, pemberdayaan kelompok masyarakat, dan promosi destinasi.
Menyikapi persoalan belum adanya petugas yang ditempatkan di lokasi wisata, Habel menyatakan akan meminta penjelasan resmi dari dinas terkait untuk mengetahui penyebab dan mencari solusi atas persoalan tersebut.
“Kita perlu mengetahui persoalan yang sebenarnya, termasuk bagaimana pengelolaan dan penempatan petugas di lokasi. Kita tidak boleh hanya berbicara tentang perencanaan tahunan, tetapi harus memiliki rencana yang utuh, terukur, dan berkelanjutan. Pembenahan harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari tata kelola, infrastruktur, fasilitas, sampai keterlibatan masyarakat,” tandasnya.
Habel berharap Pemerintah Kabupaten TTS dapat menjadikan evaluasi terhadap Oehala sebagai momentum untuk memperkuat koordinasi antar-OPD dan membangun pola pengelolaan pariwisata yang lebih terpadu. Dengan dukungan semua sektor, Oehala diharapkan tidak hanya kembali menjadi destinasi wisata unggulan, tetapi juga berkembang sebagai pusat pertumbuhan ekonomi lokal yang mengangkat potensi alam, budaya, dan produk unggulan masyarakat Timor Tengah Selatan.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.






