Bahaya terbesar saat ini bukanlah globalisasi atau modernitas, melainkan lupa pada diri sendiri. Bila kita lupa pada siapa kita, kita hanya akan jadi bayangan orang lain. Tetapi jika kita berdiri tegak sebagai Atoni Pah Meto, manusia tanah kering yang tak pernah menyerah, maka dunia akan mengenal TTS bukan sebagai tanah miskin, melainkan tanah yang melahirkan manusia berakar, teguh, dan berjiwa besar.
Maka jawabannya jelas: TTS belum kehilangan jati diri. Kita hanya perlu menemukan cara baru untuk menyatakannya. Dan itu adalah tanggung jawab kita bersama.
Honing Alvianto Bana adalah aktivis sosial, fokus pada isu perlindungan perempuan dan anak. Saat ini sedang aktif di Komunitas RIMPAF TTS. Berdomisili di Soe, Timor Tengah Selatan.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
