_Oleh: Marno Neno Bunda (Mahasiswa Peternakan UNDANA)_
Dalam lima tahun terakhir, dinamika peternakan babi di Nusa Tenggara Timur (NTT) menunjukkan dualisme yang kontras antara praktik tradisional dan tuntutan modernisasi, terutama di peternakan rakyat Pulau Timor. Provinsi ini secara konsisten tercatat sebagai wilayah dengan populasi babi tertinggi di Indonesia, mencapai 2.598.370 ekor pada tahun 2021 berdasarkan data Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, di mana komoditas ini memegang peranan vital tidak hanya sebagai sumber protein hewani tetapi juga sebagai instrumen sosial-budaya yang esensial dalam ritual adat dan mahar perkawinan . Namun, di balik potensi demografis yang besar tersebut, mayoritas peternak di desa-desa Pulau Timor masih menggantungkan diri pada pemeliharaan babi kampung (lokal) yang dikelola secara tradisional, sebuah paradigma yang sarat akan keterbatasan struktural. Varietas babi lokal ini, meskipun adaptif terhadap lingkungan setempat dan pakan seadanya, secara genetik memiliki produktivitas rendah yang ditandai dengan laju pertumbuhan lambat dan bobot panen yang tidak optimal jika dibandingkan dengan ras unggul persilangan . Oleh karena itu, realitas ini memunculkan urgensi untuk melakukan evaluasi kritis: apakah romantisme pemeliharaan babi lokal secara ekstensif masih relevan di tengah kebutuhan ekonomi yang terus meningkat, ataukah transformasi fundamental merupakan sebuah keniscayaan?
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
