_Oleh : Marno Bunda Mahasiswa Fakultas Peternakan, Kelautan, dan Perikanan (FPKP) Universitas Nusa Cendana (Undana)_
_Ketua Bidang Sosial Masyarakat ISMAPETI Wilayah V_
Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dikenal sebagai kawasan dengan kontribusi signifikan dalam sektor pertanian dan peternakan nasional. Berdasarkan laporan Bank Indonesia tahun 2025, Lapangan Usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan menjadi pengungkit utama perekonomian NTT dengan kontribusi terhadap PDRB mencapai 30,48% (Bank Indonesia, 2025, hal. 45). Angka ini mencerminkan bahwa denyut nadi ekonomi provinsi ini sangat bergantung pada sektor agribisnis, termasuk peternakan.
Namun, di balik angka makro yang menggembirakan tersebut, tersimpan realitas mikro yang memprihatinkan. Sebagai mahasiswa peternakan asli daerah yang tengah menekuni ilmu di FPKP Undana dan dipercaya memimpin isu sosial masyarakat peternakan Indonesia wilayah Timur melalui ISMAPETI, saya menyaksikan langsung kontradiksi ini. Sistem peternakan di Timor NTT, hingga saat ini, masih terperangkap dalam praktik-praktik prosedural yang berbiaya tinggi tetapi bernilai tambah rendah.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
