Melampaui Prosedural, Menuju Sistem Peternakan Kompleks di Timor NTT

Reporter : Marno Bunda Editor: Okber Bait
IMG 20260612 WA0038

1. Integrasi Tanaman-Ternak Berbasis Legum Pohon

Keberhasilan adopsi sistem penggemukan berbasis Leucaena leucocephala dan Sesbania grandiflora di wilayah kering NTT dan Timor Leste dibuktikan oleh Dahlanuddin dkk. (2024). Mereka melaporkan bahwa hingga tahun 2022, diperkirakan lebih dari 5.000 peternak telah mengadopsi sistem ini. Keunggulannya terletak pada kesederhanaan teknologi, peningkatan pertumbuhan ternak yang signifikan (dari 0,2 kg/hari menjadi 0,5 kg/hari), serta kemudahan adaptasi dengan praktik lokal (Dahlanuddin et al., 2024, sesi 4, par. 1).

2. Penguatan Kesehatan Hewan Melalui Digitalisasi

Ancaman penyakit hewan menular strategis (PHMS) seperti African Swine Fever (ASF) dan rabies menjadi pukulan telak bagi peternak NTT. Pemerintah Provinsi NTT (2024) melalui Peraturan Gubernur NTT Nomor 38 Tahun 2024 tentang Inovasi SIMUNGIL LOVE mencatat bahwa 122.000 ekor ternak babi mati akibat ASF pada tahun 2020 saja (Pergub NTT No. 38/2024, Bab I, hal. 2). Inovasi SIMUNGIL LOVE (Sistem Informasi Permohonan Pengujian Laboratorium Online) yang diluncurkan sejak 2022 merupakan langkah maju. Dengan 10.124 sampel yang telah teruji melalui sistem ini, akses peternak terhadap layanan diagnostik menjadi lebih mudah dan cepat (Pergub NTT No. 38/2024, Bab III, hal. 7).



Exit mobile version