Sistem pemeliharaan ekstensif yang masih dominan di Pulau Timor merepresentasikan potret buram tata kelola peternakan modern yang memerlukan penanganan serius dari berbagai pemangku kepentingan. Praktik ini dicirikan oleh pola pelepasan ternak tanpa kandang yang memadai dan minimnya intervensi teknis, sehingga babi mencari makan sendiri dari sisa limbah rumah tangga atau sumber daya alam sekitar yang nilai nutrisinya sangat tidak seimbang untuk mendukung pertumbuhan optimal . Implikasi dari sistem ini sangat signifikan terhadap kesehatan ternak, mengingat lemahnya penerapan biosekuriti menyebabkan ternak sangat rentan terhadap serangan wabah penyakit mematikan seperti African Swine Fever (ASF) yang beberapa waktu lalu sempat memporak-porandakan populasi babi di Kabupaten Timor Tengah Utara dan wilayah NTT lainnya . Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, Yohanes Emil Satriawan, menekankan bahwa kurangnya pengawasan kesehatan pada sistem konvensional meningkatkan risiko penularan penyakit, berbeda dengan pendekatan terpadu berbasis laboratorium . Meskipun metode ini dianggap murah secara modal, biaya tersembunyi yang harus ditanggung petani sangat besar, mulai dari kematian massal ternak hingga hilangnya kesempatan ekonomi karena lambatnya siklus produksi, sehingga sistem ini secara faktual tidak lagi mampu menjadi penopang utama kesejahteraan peternak di era kompetitif.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
