Oleh: Ricky Ekaputra Foeh, MM Dosen FISIP Undana
KUPANG, Flobanora-News.com – Di saat pemerintah masih percaya diri menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional berada pada tren positif, kenyataan di lapangan menunjukkan wajah berbeda. Pegadaian penuh, sementara rekening tabungan masyarakat justru semakin tipis. Gejolak ekonomi mikro ini tidak muncul dalam grafik pertumbuhan atau rilis BPS. Ia hadir dalam bentuk antrean warga membawa cincin kawin, HP, hingga alat kerja untuk ditukar dengan uang cepat.
Fenomena ini terjadi diam-diam. Tidak ada keributan, tidak ada demonstrasi. Tetapi diam-diam, dapur ekonomi rakyat sedang terbakar.
Pegadaian Bertransformasi Menjadi “ATM Darurat” Keluarga Miskin-Produktif
Dulu, masyarakat yang mengalami tekanan ekonomi akan mendatangi bank, koperasi simpan pinjam, atau BUMDes. Kini, Pegadaian menjadi titik pertama saat kebutuhan ekonomi mengetuk pintu secara paksa. Yang lebih mencemaskan, uang hasil gadai bukan lagi dipakai untuk modal kerja atau perputaran ekonomi, melainkan untuk bertahan hidup.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
