Menariknya, capaian ini diraih tanpa sokongan infrastruktur pembinaan yang ideal. “Mereka belum punya SSB yang menyebar, tapi sudah begini hebat. Bayangkan nanti kalau program SBS-HMS betul-betul jalan, dan SSB dibuka di 12 kecamatan di Malaka. Dalam dua-tiga tahun ke depan, kita akan menyaksikan gelombang talenta baru dari timur yang mengerikan,” pungkas Robert dengan senyum penuh harap.
Cerita ini bukan sekadar pujian terhadap bakat anak daerah, tetapi juga sebuah catatan penting bagi stakeholder olahraga di NTT. Bahwa investasi dalam pembinaan usia dini bukan lagi pilihan, tapi kebutuhan mutlak jika ingin menjadikan sepakbola sebagai identitas kebanggaan dari bumi Flobamora.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












