Oleh Ricky Ekaputra Foeh, M.M., Dosen Administrasi Bisnis FISIP Undana
KUPANG, Flobamora-News.com -Gebrakan Menteri Keuangan dengan menggelontorkan dana Rp200 triliun ke perekonomian menjadi momentum penting bagi dunia usaha. Bagi pelaku UMKM, kebijakan ini ibarat suntikan oksigen yang bisa mendorong laju pertumbuhan. Namun, bagi perbankan, peluang besar ini juga menyimpan tantangan serius: risiko kredit macet yang harus diantisipasi.
UMKM Penerima Manfaat Utama
Dana segar yang memperkuat likuiditas sistem keuangan akan membuat bunga kredit cenderung turun. Bagi UMKM, kondisi ini adalah kesempatan langka. Akses pembiayaan yang lebih murah akan membuka ruang ekspansi usaha, meningkatkan produksi, dan memperluas lapangan kerja. Bila diarahkan dengan benar, UMKM bisa menjadi motor penggerak utama pemulihan ekonomi nasional.
Bank Lebih Agresif, Risiko Juga Meningkat
Likuiditas yang longgar mendorong bank menyalurkan kredit lebih agresif. Namun, dalam euforia pertumbuhan, ada bahaya moral hazard. Dorongan mengejar keuntungan bisa membuat bank melonggarkan analisis risiko. Hasilnya, kredit bisa mengalir ke sektor yang tidak benar-benar produktif atau berisiko tinggi. Jika tidak dikendalikan, non-performing loan (NPL) berpotensi meningkat dan membebani stabilitas keuangan.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
