Opini  

Demokrasi Membutuhkan Nalar, Bukan Sekedar Gelombang Aspirasi 

IMG 20261019 103527
Martin Krisna dalam acara podcast dialog lintas generasi, photo dok: istimewa

Yang perlu dihindari adalah menjadikan aksi sebagai respons otomatis terhadap suatu isu, terlebih ketika dasar informasi dan tujuan yang hendak dicapai belum jelas. Partisipasi demokratis semestinya berangkat dari kesadaran, bukan sekadar dorongan sesaat; dari pemahaman, bukan hanya pengaruh lingkungan; dan dari kepentingan yang dapat dijelaskan, bukan semata-mata mengikuti gelombang opini.

Ruang Digital Memerlukan Kecermatan Publik

Media sosial telah memperluas kesempatan masyarakat untuk berpartisipasi dalam perdebatan publik. Setiap orang dapat menyampaikan pandangan, mengkritik kebijakan, dan mengangkat persoalan yang sebelumnya kurang mendapat perhatian. Akan tetapi, ruang yang semakin terbuka juga memudahkan penyebaran informasi yang tidak lengkap, klaim yang belum teruji, dan narasi yang menyederhanakan persoalan kompleks.

Tagar seperti “Indonesia Gelap” dan “Indonesia Bangkrut”, misalnya, perlu ditempatkan sebagai narasi yang harus diperiksa substansinya. Apakah narasi tersebut merujuk pada indikator tertentu? Data apa yang mendukungnya? Periode dan kondisi apa yang menjadi dasar penilaiannya? Apakah kesimpulan yang disampaikan sejalan dengan bukti yang tersedia?



Exit mobile version