“Saya hanya mahasiswa peternakan biasa yang suka membaca dan mendengar cerita orang tua di kampung,” ungkap Marno dengan penuh kerendahan hati. Baginya, pencapaian ini adalah titipan Tuhan dan buah doa keluarga di Amarasi. Kini, ia memikul tanggung jawab besar untuk menggaungkan misi Trigatra Bangun Bahasa: mengutamakan bahasa Indonesia, melestarikan bahasa daerah (khususnya bahasa Amarasi yang ia cintai), dan menguasai bahasa asing sebagai jendela dunia.
Kisah Marno adalah pengingat bagi seluruh generasi muda di NTT bahwa potensi diri tidak boleh dikotak-kotakkan oleh gelar akademis. Dengan senyum lebar yang menjadi ciri khasnya, ia menutup ceritanya dengan pesan yang membakar semangat: “Jangan batasi dirimu hanya pada satu bidang. Jika saya yang setiap hari bergelut di kandang bisa berdiri di panggung bahasa, kalian pun pasti bisa menaklukkan mimpi apa pun.”
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
