Meski begitu, ada masalah besar: minim literasi finansial. Banyak yang masih bergantung pada sinyal dari grup WhatsApp atau Telegram, tanpa memahami analisis pasar. Akibatnya, mudah panik, salah pasang lot, atau terjebak overhedging.
“Banyak anak muda yang langsung ‘nyemplung’ tanpa persiapan matang. Padahal trading butuh strategi, bukan sekadar ikut-ikutan,” tegas Ricky Foeh.
Edukasi dan Regulasi Jadi Penentu
Menurut tim peneliti, ada tiga kunci sukses agar hedging benar-benar efektif: literasi keuangan, kontrol psikologi, dan pemanfaatan teknologi. Tanpa itu, hedging bisa jadi bumerang.
Rekomendasinya jelas:
• Perlu ada pelatihan rutin untuk meningkatkan pemahaman finansial anak muda.
• Akses ke instrumen derivatif seperti futures dan options harus lebih luas.
• Regulator perlu mendorong aturan yang ramah bagi trader pemula agar lebih terlindungi.
“Kalau ini bisa diwujudkan, generasi muda Kupang bisa jadi trader yang tangguh, inovatif, dan berkelanjutan secara finansial,” tambah Ricky Foeh.
Hedging : Senjata Masa Depan Trader didalam Market
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
