Lalu dengan nada bercanda yang khas Teguh menyarankan agar dalam cetakan berikutnya, sang penulis menambahkan kata “memang” pada judul buku sehingga menjadi “Memang Jurnalisme untuk Kemanusiaan”.
Dalam pandangan Teguh, jurnalisme seharusnya bekerja dari “hulu ke hilir”. Artinya, jurnalisme secara ideal harusnya juga berperan memitigasi persoalan.
“Tidak cukup kita hanya bergerak untuk membantu korban kerusakan lingkungan. Ada hal di hulu yang harus kita lakukan untuk memitigasi jatuhnya korban. Misalnya dengan mengawal kebijakan tata kelola lingkungan sehingga tidak merusak alam dan kebijakan pembangunan tidak malah menciptakan ketimpangan yang ekstrem, yang menciptakan persoalan-persoalan kemanusiaan,” ujar Teguh.
Intinya, Teguh menganalogikan, jurnalisme tidak sekadar menjadi “pemadam kebakaran”. Namun mencegah akar kebakaran tidak terjadi.
Pada bagian lain, Teguh juga menyoroti tantangan era digital yang kerap membuat jurnalisme terjerembab dalam perangkap algoritma, sehingga hanya membicarakan hal-hal yang superfisial dan artifisial. Karena itu perlu kesadaran kolektif di kalangan masyarakat pers untuk mencegah praktik jurnalisme menjadi “budak algoritma” yang justru dapat menjauhkan jurnalisme dari isu-isu kemanusiaan yang substansial.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












