Mantan Kades Nunkolo Laporkan Mantan Bendahara BUMDes ke Polres TTS, Kuasa Hukum Tegaskan Siap Kawal Hingga Meja Hijau

Reporter : Marfin
IMG20260530141916 01

SoE, Flobamora-News.Com – Mantan Kepala Desa Nunkolo, Kecamatan Nunkolo, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Yusuf Bana, resmi melaporkan mantan Bendahara Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) berinisial PT ke Polres TTS atas dugaan tindak pidana pencemaran nama baik.

 

Laporan tersebut telah diterima dan tercatat dalam Surat Tanda Penerimaan Laporan (STPL) Nomor: LP/B/383/V/2026/SPKT/POLRES TIMOR TENGAH SELATAN/POLDA NUSA TENGGARA TIMUR, tertanggal 30 Mei 2026.

 

Dalam konferensi pers yang berlangsung di halaman Polres TTS, Jumat (30/5/2026), Yusuf Bana didampingi tim kuasa hukumnya yang dipimpin Arman Tanono. Mereka menjelaskan kronologi dugaan pencemaran nama baik yang menjadi dasar laporan tersebut.

 

Menurut Arman Tanono, persoalan bermula pada 28 April 2026 sekitar pukul 23.00 WITA saat kliennya dijemput oleh seorang perangkat Desa Nunkolo dan diminta hadir di kantor desa untuk memberikan klarifikasi terkait permintaan pihak Inspektorat.

 

“Sesampainya di kantor desa, klien kami langsung dimintai keterangan terkait dugaan penyelewengan dana BUMDes. Klien kami merasa terkejut karena tidak mengetahui persoalan tersebut dan kemudian menanyakan siapa pihak yang menyampaikan informasi itu,” ujar Arman.

Baca Juga :  Laenmanen, Malaka Flobamora-News.Com – Di bawah terik matahari, semangat pantang menyerah terpancar dari seorang petani yang gigih. Seolah ingin memastikan setiap sudut Kecamatan Laenmanen, Kabupaten Malaka, Provinsi NTT, tersinari dengan keberhasilan. Panas yang menyengat dan keringat yang menetes tak sedikit pun mengurangi semangat Kepala Desa Tniumanu, Raymundus Ikun Pareira, bersama masyarakat yang tengah memanen tomat di Kebun Kelompok Tani Aperta, Sabtu (25/10/ 2025 ) . Lahan yang dulunya terlantar kini disulap menjadi kebun tomat dan cabai yang mampu meningkatkan ekonomi masyarakat setempat. Tim media berkesempatan mengunjungi Kepala Desa Tniumanu, Raymundus Ikun Pareira, di Kebun Aperta. Saat itu, Rey, sapaan akrabnya, sedang memimpin masyarakat memanen tomat untuk dijual ke Timor Leste. Kades Ray Pareira tampil santai dan akrab di tengah masyarakat. Di sela-sela kesibukannya, ia terus memacu semangat masyarakat untuk terus bekerja keras dan mendukung ketahanan pangan. Ia mengungkapkan bahwa penyertaan modal ke Kelompok Tani Aperta dari APBDes tahun 2024 sebesar 50 juta rupiah. "Awalnya saya iseng saja. Tetapi berawal dari hobi di dunia pertanian, saya mengolah lahan kebun desa yang sebelumnya ditanami pisang. Atas dukungan Sebastian Momo, PPL yang berpengalaman dan profesional, kami mulai survei lahan dan sumber mata air pada bulan Oktober 2024," ujarnya kepada wartawan di Kebun Aperta. Kemudian, lanjut Rey Pereira, rencana itu diundur ke Desember 2024 setelah musim hujan tiba. Ia menjelaskan bahwa kebun hortikultura yang diberi nama Kelompok Tani Aperta ini berawal dari 8 ribu pohon tomat dan 4 ribu cabai rawit. Setelah berproses selama 3 bulan, akhirnya hasilnya mulai terlihat. "Saya sempat bingung soal pemasaran. Suatu malam saya merenung, jika tidak ada pembeli, saya akan perintahkan kepala dusun, kaur, dan kepala seksi untuk membagikan hasil panen kepada seluruh masyarakat," kisah Kades Rey Pereira. "Berkat publikasi media online, akhirnya ada yang menghubungi kami untuk membeli hasil kebun hortikultura Desa Tniumanu. Puji Tuhan, dari hasil panen musim pertama, kami meraup 90 juta rupiah. Kemudian, kami mengembalikan modal awal dan sisanya dibagikan kepada 5 orang pekerja di Kelompok Tani Aperta, masing-masing 8 juta rupiah," sambung Kades Rey Pereira. Dirinya sangat bangga karena pertanian hortikultura sangat menjanjikan. Hasil panen musim pertama itu terus memacu semangat tim kerja Kelompok Tani Aperta. "Saya bangga karena dari Kelompok Tani Aperta ini, tanpa sadar, bisa memberikan lapangan pekerjaan kepada masyarakat," ujarnya. Dia berharap anak-anak muda tidak perlu merantau, sebab di kampung sendiri ada hal-hal baik yang bisa menghidupi keluarga, tergantung kreativitas dan inovasi dari pribadi masing-masing. "Saya selalu menasihati anak-anak muda untuk terus bekerja keras, apa pun penghasilannya, yang penting halal dan bisa untuk memenuhi kebutuhan hidup," ungkapnya. Saat ini, di Kebun Aperta sudah ditanam tomat musim kedua sebanyak 80 ribu pohon. Namun, mereka menghadapi kendala pemasaran karena harga tomat sedang menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Rey Pereira juga mengeluhkan keterbatasan di Kelompok Tani Aperta, seperti kendala air, alsintan, bibit, pupuk, dan perlengkapan lainnya. "Kami juga berharap agar pemerintah bisa membangun komunikasi untuk membuka perbatasan Motamasin dan bekerja sama dengan Timor Leste, sehingga hasil pertanian dari Malaka bisa masuk atau terjual ke sana," pungkasnya. Program ini juga merupakan bagian dari dukungan terhadap program prioritas SBS-HMS di bidang ketahanan pangan. "Saya mengajak masyarakat untuk terus mendukung program-program prioritas Pemerintahan SBS-HMS demi terwujudnya kesejahteraan masyarakat Malaka," tandasnya.


Exit mobile version