Di sisi lain Alexander Sudrajat menyatakan, dalam bisnis media online di era digital saat ini, trafik memang menjadi andalan penghasilan, terutama dari Google
demi mengejar Adsense (Iklan Google). Dengan demikian, Clickbait menjadi salah satu kiat media online untuk menaikkan jumlah pengunjung. Bahkan, clickbait sudah menjamur bahkan cenderung menjadi “trending” di kalangan media online.
Lantas bagaimana kita wartawan dalam menghasilkan produk Jurnalistik berkualitas dengan klik bait? Ketua Komite etik Detik.com membagikan kiat dan pengetahuannya. Menurutnya, Jurnalisme berkualitas sejatinya memenuhi unsur-unsur yang meliput keakuratan data dan fakta, faktual dan terverifikasi, berimbang dan adil, berdampak (public interest), memenuhi Kode Etik Jurnalistik serta berasal dari sumber yang jelas juga terpercaya dan dapat dipertanggungjawabkan.
Sementara fenomena jurnalisme klik bait ini hanya bekerja mengandalkan algoritma, Seo Google yang pada dasarnya mengandalkan kecepatan dengan mengabaikan akurasinya. Bahkan, lebih separuhnya media online di Indonesia mengutip informasi dari kanal media sosial seperti Facebook, Instagram maupun Twitter yang semestinya dihindari oleh medis. “Dalam praktiknya semua media online berpacu dalam kecepatan, praktik jurnalisme seperti akurasinya keteteran, banyak typo dan judulnya mis leading” ujarnya.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
