Menjaga Marwah Akademis di Tengah Penghakiman Massa: Refleksi Seorang Dosen

Reporter : Okber Bait Editor: Okber Bait
IMG 20260804 WA0010

Masyarakat dan netizen dalam kasus ini, memvisualisasikan dosen sebagai figur kaku yang senang menyulitkan. Padahal, yang terjadi di balik pintu ruang bimbingan justru sebaliknya sebab tidak sedikit dosen mendapati draf tulisan mahasiswa yang secara standar ilmiah sebenarnya belum dan tidak layak diuji. Namun, karena rasa empati, mempertimbangkan masa studi yang hampir habis, hingga iba pada beban orang tua, dosen sering mengalah dengan memberikan kebijakan-kemudahan kelonggaran batas paling bawah, agar mahasiswa tetap bisa maju dan tuntas.

Sangat ironis ketika empati dan kelonggaran yang selama ini diberikan mendadak diabaikan dan dilupakan hanya karena satu momen penegakan standar akademis yang diterjemahkan secara keliru oleh emosi netizen.

Fenomena trial by social media ini sangat berbahaya bagi masa depan pendidikan tinggi. Ketika sebuah masalah akademis diseret ke ranah media sosial tanpa klarifikasi seimbang, terjadi perundungan siber (cyberbullying) dan pembunuhan karakter terhadap dosen. Di sisi lain, hal ini berisiko menumbuhkan mentalitas self-victimization pada mahasiswa, di mana ketidaksiapan diri disamarkan di balik narasi menjadi korban. Jika kebiasaan “diviralkan” ini terus dilegalkan, para dosen kelak akan takut memberikan kritik konstruktif dan standar pendidikan akan meluncur turun sebab dosen memilih meluluskan siapa saja demi mengamankan diri dari amukan publik.



Exit mobile version