Oleh
Dr. Tian Liufeto
Dosen Pada Universitas Nusa Cendana
Sebagai seorang pendidik di perguruan tinggi, saya mencermati narasi liar yang belakangan beredar di grup WA, media massa dan media sosial. Kasus yang menerpa rekan sejawat, Dr.Sherli Littik, sungguh menyesakan dan dapat menyisakan duka yang mendalam bagi dunia akademis. Hanya dalam hitungan jam, ruang digital dipenuhi tuduhan dan hujatan netizen yang menghakimi seolah-olah terjadi tindakan sewenang-wenang : membatalkan ujian skripsi hingga 12 kali sehingga membuat mahasiswa depresi dan dilarikan ke UGD.
Sebagai sesama dosen yang setiap hari bergelut di dalam dinamika ruang perkuliahan dan bimbingan, saya tahu persis ada realitas mendasar yang dipotong secara sepihak oleh narasi viral tersebut sebab sejumlah fakta menunjukkan Ibu Sherli secara transparan mengomunikasikan keterbatasan waktunya akibat beban mengajar hingga duka yang dialami, melalui pesan tertulis. Beliau bahkan sebenarnya memberikan solusi nyata agar proses ujian mahasiswa tidak terhambat dan tidak bergantung hanya pada dirinya semata.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
